Minggu, 22 Desember 2013

Smile ^_^


Lagi-lagi kamu menjadi partikel utama yang menginspirasi. Ya, menginspirasi untuk banyak kata dari akal yang menyimpan beragam hal. Menjadikannya serentetan huruf dalam kedipan layar monitor. Menulis kembali dengan topik utama berjudul : kamu.
Diantara sekian banyak perdebatan atas nama ego atau rasionalitas, aku menemukan sepasang sayap yang membuatku terbang melintas batas imajinasiku sendiri. Meskipun seketika sayap itu menghilang ketika waktu kembali menjemput realita. Tapi cukup untuk membuatku tersenyum ikhlas dan tak lagi menuntut banyak hal gila. Senyuman kecil dilayar handphone yang tak terlalu canggih itu membuat dahiku berkernyit heran namun disisi lain sang bibir menyunggingkan senyum ragu-ragu. Ia mempertanyakan kembali apakah pesan ini hanya salah kirim atau sengaja? Karena belakangan aku gagu dan lupa cara membalas senyummu. Bukan karena aku tak mau, tapi karena akhir-akhir ini aku tak punya kesempatan untuk sekedar diberi sebuah emoticon senyum.
Ya aku kehilangan senyum kekanakanmu, tingkah konyolmu, juga bentuk candaan tulus lainnya. aku mulai panik karena tak bisa lagi menemukan itu. Hingga aku lupa bagaimana cara membalas hal yang sama jika itu terulang kembali? Dan benar saja, senja kali ini aku hanya bisa tersenyum tipis dengan belenggu ragu yang terlalu mengharu biru.  Aku seperti seorang bocah yang berhenti menangis setelah menemukan kembali mainan kesayangannya yang sempat hilang. Aku dengan semacam rasa yang tak pernah bisa sempurna ku eja, mulai kembali mengejar dan bertanya alasan dari senyuman itu. Lalu seperti biasa, manusia memang seringkali dibilang mahluk serakah “diberi hati meminta jantung”. Tepat seperti itulah responku, hingga akhirnya tak ada lagi respon selanjutnya dari nomer yang sudah biasa kuhafal itu.
Cukup. Cegah hati kecilku menghibur. Sudah lebih dari cukup bukan? Setidaknya akhir tahun ini kamu masih mendapatkan senyuman. Positifnya, senyuman itu anggaplah sebagai kado hari ibu untuk seorang ibu dari anak-anaknya kelak seperti permintaan rahasia yang biasa terungkap dalam doanya. Tapi tunggu, rasanya itu terlalu tinggi. Karena bagiku entah dengan makna apapun melihat senyumnya adalah salah satu momen terbaik untuk aku bisa mengikhlaskannya dan melihat dia bahagia serta baik-baik saja. Sesimpel itu cinta sederhana yang tak pernah kita tahu ujungnya. J



Hari ini


Minggu, 22 Desember 2013

Memenjarakanmu dalam sebagian diri ternyata bukan menjadi hal terbaik. Hingga pada akhirnya ia justru melukai, memaksakan sekian teori untuk tetap berjalan sebagaimana harusnya waktu-waktu dulu. Hati lupa mengatur bagaimana ia harusnya mengendalikan  rasa hingga titik balik keseimbangannya, juga akal yang kehilangan rasionalitasnya. Benar-benar masih ‘bocah’.
Berbilang menit, jam, hingga hari yang berlalu nyatanya aku masih gagal. Aku menyadari bentuk kegagalan yang begitu memuakan. Tak punya pilihan antara melepaskan dan menuntut bagaimana seharusnya. Menuntut bahwa arti kata teman tak seharusnya berkutat dengan pola hubungan demikian. Lalu kita hanya saling mencari alibi atas perlakuan masing-masing. Tak mau saling memahami. Mungkin begitulah prosesnya, atau kasarnya anggaplah ini hukuman dari semesta karena kita menciptakan kondisi tak seharusnya, melintas jauh dari batas-batas pembenaran. Ah membingungkan. Bahkan aku kini hanya mampu beretorika pada kata yang entah dimaknai dengan rasa apa. Terlalu abstrak. Aku hanya ingin menghindar, mencari kehidupan baru dan aku tak tahu seperti apa bentuk pengembalian semangat. Berlari pun aku masih terengah dan gelap. Karena pada akhirnya aku tak bisa pergi kemana-mana masih banyak hal yang harus diselesaikan.  Termasuk kamu.
Lalu tentang hari ini, aku masih menginginkan terikat pada satu hubungan. Seperti yang orang-orang sebut sebagai hari ibu, walaupun satu predikat itu justru tak pernah memiliki ujung penghargaannya atau satu puncak penghargaan. Karena semua tentang ibu, tak sekedar berhenti pada satu hari, ia adalah bentuk kasih sayang tulus dan cinta selamanya. Meskipun begitu, hari ini aku menengok kembali sisa-sisa keberadaanku dihati seorang ibu diujung sana. “Ibu… Selamat hari ibu… makasih buat semuanya”, dan ternyata dibalik kalimat itu ada yang masih tertinggal : “ Terima kasih karena telah melahirkan dia kedunia”. Kupilih kalimat tak terungkap itu untuk menutup akhir tahun yang kita isi belakangan dengan tingakah menyebalkan. Semoga kalimat terbaik itu manjadi doa penghujung senja untuk kehidupan lebih berharga didepan sana. Selamat bertemu dipersinggahan selanjutnya… dan terima kasih karena telah terlahir ke dunia.



Senin, 09 Desember 2013

Pertanyaan Untuk Hujan Selanjutnya

untuk rangkaian waktu, ketika kusaksikan kamu mulai berlalu.
menyisakan kenangan, juga menyisakan tentang hujan..

terpejam...
membiarkan tempiasnya menenggelamkan diri 
pada hakekat takdir yang Tuhan berikan
maka mengurungmu disatu sudut hati
menyimpanmu dirangkaian syaraf memory
menangkap bayang dalam retina
juga mengiangkan suara dalam telinga...
lalu kembali terbuka,
menatap pasti
fokus pada banyak hal
meski nyatanya hujan tetap menghadirkan sebuah ruang tersendiri tentang kamu.

untuk saat ini setidaknya masih tetap begitu
tapi untuk hujan-hujan selanjutnya... aku masih belum tau.

Bogor, hujan sore ini 9 Desember 2013


Sabtu, 30 November 2013

ICRD 2013 : Beberapa ungkapan


Genap sebulan terakhir menjelang tahun baru, bukan menantikan gempita perayaan pada angka bernomor  1 dibulan pertama itu. Tapi menantikan banyak hal tentang harapan dan rencana hidup. Meskipun pada akhirnya Tuhan tetaplah menjadi muara penentuan. Satu bulan lagi, akan aku sambut tahun kelulusanku (semoga), dan dari sanalah awal banyak hal yang belum pernah aku jalani. Menantikannya menjadi begitu menakjubkan, akan kemana dan seperti apa. Teka-teki Tuhan sangatlah menarik, semenarik untuk menstimulus diri melakukan usaha dan perubahannya.
Awal tahun ini aku tutup dengan pengelaman menakjubkan bersama orang-orang luar biasa. Satu impian dikertas mimpiku berhasil tercentang tanda berhasil terwujud. Perjuangan menuju perwujudan impian adalah saat dimana diri takjub pada kekuatan Tuhan mengatur semuanya. Ya kali ini berhasil menjadi partsipan dalam konferensi internasional dengan menampilkan karya tulisan kita di International Conference Regional Development (ICRD) 2013. Siapa sangka selain Bogor dan Jakarta, Semarang menjadi salah satu kota penaklukan seorang diri yang dulu bukanlah apa-apa. Bahkan untuk menjelajah jauhpun tak sempat terkira.
ICRD 2013 menjadi langkah pembelajaran tersendiri tentang bagaimana setiap diri dan kelompok selalu menjadi bagian dari pembangunan. Bukan saja sebagai objek pihak berwenang melaksanakan kebijakannya, tapi menjadi subjek perubahan. Menganalisis beragam fenomena dan membahasnya utuk menjadi pertimbangan evalusi kehidupan yang lebih baik. Semoga bukan saja menghasilkan output yang sekedar kertas tapi sebagai lebih dari itu sebagai  implementasi nyata ilmu pengetahuan.
Semangat untuk peraihan mimpi-mimpi selanjutnya. Menunjukan bahwa perjuangan mewujudkan impian adalah hakekat kualitas hidup tersendiri. Betapa Tuhan tak pernah luput melihat hambanya jauh lebih dalam dari setiap mahluk yang mampu melihat.

 




Sabtu, 02 November 2013

Malam Minggu


         Masih lekat 3 tahun lalu saat melangkahkan kaki dengan penuh tekad agar mengenal dunia perkuliahan. Lalu akhirnya tahap demi tahap Allah menyampaikan pada takdir pilihanNya. pada salah satu tahap itu, aku sempat singgah di universitas ternama dinegeri ini. Pertama kali rasanya seperti orang udik yang baru merasakan naik kereta, melihat gedung-gedung pencakar langit ibu kota setelah kenangan masa kecil silam, juga melihat megahnya bangunan yang disebut kampus. Saat itu aku melihat betapa mahasiswa memang berbeda dari segi apapun. Ada kharisma tersendiri dari title itu. Posisi yang sungguh berbeda dari keseharian aku yang masih heboh dengan seragam putih abu-abu. Keseharian yang diisi dengan beragam kegiatan, tapi kegiatan yang cenderung bukan apa-apa, kegiatan yang kurang produktif, pembelajaran yang seenak sendiri karena kepalang santai juga prespektif tentang malam minggu yang entah berawal dari konstruksi sosial siapa bahwa malam minggu dinilai ‘berbeda’. Sebagian remaja mungkin mendefinisikan berbeda adalah karena sejenak bisa rehat sekolah, liburan, atau juga mengisi malam minggu dengan agenda pacaran dan sejenisnya. Dan aku termasuk yang menilai bahwa malam minggu memang berbeda, karena tak ada istilah belajar. Kalau bukan diisi tenggelam dalam novel-novel pinjaman, menonton acara TV hingga larut malam, juga berkesempatan smsan lebih intens dengan gebetan.
Agaknya pengalaman kala singgah dikampus itu mematahkan cara pandangku tentang malam minggu. Aku terheran dan geleng-gelang kepala saat bermalam di asrama mahasiswa. Karena ternyata banyak diantara mereka yang mengisi malam minggu dengan asyik dikamar asrama yang kecil itu. Mereka antusias menenggelamkan diri dengan laptop dan setumpuk buku-buku yang entah berapa ratus halaman. Istimewa. Melakukan hal yang tidak biasa. Hingga akhirnya malam ini aku berkesempatan mengenang pengalaman itu, lalu menertawakan diri sendiri karena entah malam minggu keberapa, aku masih melarutkan diri dengan beragam tugas, belajar, atau kepentingan organisasi. Kini aku yang berbeda posisi dari 3 tahun silam juga melihat diriku sebagai mahasiswa yang aku lihat saat itu. Dan aku lebih mengerti bahwa setiap orang memiliki cara pandang, kepentingan dan alasannya masing-masing. Atau bahkan terkadang hidup bukan melulu tentang pilhan, tapi justru hidup itu sendiri yang tak menyisakan pilihan.
Itulah hidup. Perputarannya begitu sempurna tanpa cela menunjukan kekuasaan Tuhan. Juga menunjukan bahwa manusia bermetamorfosis dari waktu ke waktu hingga menua. Semoga setiap perubahan apapun itu senantiasa mengarah pada kebaikan dan keridhoanNya. Bukan saja tentang prespektif malam minggu tapi juga tentang banyak hal disekeliling kita. 

Jumat, 01 November 2013

Akselerasi



            Mempercepat masa perkuliahan bagi sebagian orang itu menjadi cukup dilematis. Tapi bagi sebagian yang lain pasti tak menolak, asalkan berkapasitas. Beragam alasan terkadang memang rasional, misalnya karena masih ingin mengeksplorasi diri dengan beragam kegiatan, atau sekedar menikmati masa-masa itu tanpa harus buru-buru mengakhirinya. Karena terkadang juga dunia kerja jauh lebih ‘dramatis’ dari dunia kampus. Awalnya aku memiliki alasan demikian. Sama seperti ketika dulu terlalu takut mengakhiri masa SMA dan dunia perkuliahan masih menjadi impian yang abu-abu. Atau bahasa ‘sok’nya aku terlalu mencintai proses pembelajaran :) 
Lalu perlahan, aku menyadari bahwa proses pembelajaran itu bukanlah proses pendidikan seperti sekolah atau kuliah. Pembelajaran adalah proses seumur hidup. Ia tak pernah selesai. Karena belajar adalah proses berfikir dan memaknai hidup lewat apapun itu kemudian menjadikannya lebih baik dari waktu ke waktu. Dan kata akselerasi menjadi tuntutan ditengah keluarga yang semakin perlu dibantu. Bukan saja melulu tentang keegoisan impian sendiri. Maka mempercepat masa kuliah berarti segera memutus aliran dana yang memberatkan, karena akselerasi berarti menantang diri dibawah tekanan, karena akselerasi juga berarti mempercepat masuk dunia kerja lalu membantu mereka! sesederhana itu kondisi eksternal mendoktrin diri sebagai motivasi. Bukan terlalu ngoyo atau sok. Tapi karena setiap orang memiliki alasan yang berbeda. Dan alasan lain adalah karena beban negara. Rasanya selalu ironis bahkan meneteskan air mata setiap kali melihat tayangan dokumenter dilayar kaca. Menyadari betapa terlalu banyak masyarakat marjinal bertaruh hidup sedemikian sulit dinegeri ini. Sedangkan aku? Berfikir berkali-kali seberapa pantas hidup dari tanggungan negara, mengorbankan hidup diatas jeritan mereka. Tragis. Maka mempercepat semuanya semoga menjadi jalan terbaik untuk hidup yan lebih baik didepan sana.
Tapi akselerasi akhir-akhir ini menjadi  sebuah impian yang cukup menakutkan. Antara sanggup atau tidak. Dan pada akhirnya sedikit berempati pada diri sendiri, ketika justru takut yang lebih dominan lalu apa lagi yang bisa dilakukan? Impian akan kalah tanpa tekad dan semangat.  Menurut seorang teman “Namanya juga hidup, kalo bukan kita yang semangat… mau dibawa kemana hidup kita. Semangat itu jalan satu-satunya mewujudkan tujuan (ESB).” ya semangat bertekad dengan usaha dan doa, hanya itu yang bisa dilakukan untuk sekarang. Semoga impian 2014 wisuda bukan sekedar angan. Semoga!
            


Senin, 28 Oktober 2013

Ketidakbiasaan


Senja kali ini rasanya sang hujan tak berniat absen untuk tidak menyapa. Senja kali ini juga rasanya hati tak mau berkompromi untuk sedikit saja melupakan apa yang harusnya dilupakan. Tunggu, tapi benarkah harus? 
Entahlah… ia bertahta sederhana dengan semua kenangan dan kebaikan. Justru diri sendirilah yang membuatnya terjelma dalam pemikiran dan sikap angkuh tak biasa. karena adakalanya yang tak biasa dan istimewa akhirnya berimbas pada hal-hal yang tak diinginkan. Ada hal yang tak seharusnya ada. Ada hal yang harusnya biasa tapi terlalu dibuat rumit. Sebuah ‘Ketidakbiasaan’. Dan sampai saat ini satu kata itulah yang belum mampu aku ganti dengan makna lain. 



"Bagian"


   Membiarkan bebas dan tak terikat atau bahkan membiarkan harapan menjadi serangkaian abstraksi yang lebih abstrak lagi hingga akhirnya tak ditemukan. Mengalir membiarkan takdir Tuhan berjalan dengan sempurna. Tapi mengenal keluarga lain dengan perlahan dan memasukinya seperti putri yang baru dikeluarga itu adalah kado luar biasa. Untuk seorang ayah yang aku bebas berdiskusi tentang “hidup” dan bahkan menanggung keperluanku disatu bagian episode Tuhan yang lewat tangan-tangan mereka Dia menunjukkan bahwa selalu ada malaikat-malaikat dibumi-Nya. Juga untuk seorang ibu yang dengan kekhawatirannya mengingatkanku akan banyak hal, atau kakek dan nenek yang mengajakku mengenal lebih jauh apa yang seharusnya aku pahami sesuai title almamaterku. Juga mengenal putri kecil yang menjadi adik tercantikku. 

Banyak hal… ya banyak hal yang kamu bawa. Tapi ketika aku dan kamu akan menjelma seabstrak apapun, mereka adalah persembahan ikatan yang selalu nyata. Selalu…


Jumat, 18 Oktober 2013

1


    Disatu ruang waktu yang cukup singkat aku menemukanmu utuh tak bergeming. Tak ada kejanggalan disana, seolah waktu dengan sempurna menjawab bahwa jaraklah yang memanipulasi. Aku menyusun sisa-sisa perdebatan dalam pertanyaan yang tak mudah kujelaskan. Bahkan kata-kata seolah mengawang mempertanyakan sebuah rasa yang dulu begitu nyata namun seringkali timbul tenggelam. Bahkan disatu waktu kemarin dapat kita katakan karam. 

       Aku menemukanmu masih tersenyum dengan ketulusan yang sama, aku masih menemukan serangkaian kelembutan disana, aku masih menemukan banyak hal yang menjadi skema penilaianku bahwa itu kamu. Ya kamu : seseorang yang masih akan tetap sama berharganya seperti tahun-tahun silam hingga kelak kehidupanku berakhir. 


-belajar menyimpan sebuah rasa untukmu tanpa syarat-

Rabu, 02 Oktober 2013

Sebutir benih

Bercerita tentang pengalaman yang mengandung banyak hal. rasanya masih lekat ketika kaki mungil ini dulu menjejakan tapaknya pada area berlumpur : sawah. semua menyimpan keasyikan tersendiri. sebuah ruang waktu yang utuh. lalu pagi itu entah mungkin lebih karena terpaksa tuntutan tugas aku (tepatnya kami) menceburkan diri menanam padi belajar lebih dalam tentang satu ilmu bernama 'tanaman pangan'. kini sedikit berbeda disatu waktu yang tentu tak sama juga diruang yang juga berbeda. ternyata dunia memang tak pernah lepas dari perubahan. termasuk perubahan mendasar tentang lingkungan. tak ada lagi cipratan air lumpur yang bersih karena pagi itu ternyata sawah bercampur sampah. ironis.
hanya mencoba mengamati semuanya lebih dekat, tentang hubungan horzontal, lingkungan serta pemaknaan diri pada Tuhan. aku belajar, tentang hakekat bahwa manusia kian mengubah lingkungan entah menjadi apa. serta tentang kebesaran Tuhan dalam satu butir benih hingga bibit dan kelak menjadi tanaman bermanfaat luar biasa... selalu berusaha belajar memaknai

Rabu, 21 Agustus 2013

Kisah yang Terdiam


Dalam jejak-jejak impian
Mencermati paradoks hidup yang dilematis
Bertaruh tentang asa yang tak jarang memberatkan

Tertegun
Mengenang sekelumit janji keteguhan yang kian goyah
Dipersimpangan aku tertunduk
Mencoba melupakan kemegahan cita
lalu menggantinya dengan sederhana

Terdiam
memanipulasi  kata hati  yang tersembunyi
Tapi Ia menggeliat,
Bak kudeta perlawanan dalam panggung politisi
Lalu menyisakan air mata

Dalam sebuah kisah yang terdiam
Aku menyaksikan kebekuan
Menguapkan sisa-sisa semangat yang dulu menggema

Namun atas nama manusia yang ingin membuktikan keberadaannya
Diri akan tetap berjuang
Dan berharap setiap serpihan episode

Kian menjelma laksana aurora

Rabu, 22 Mei 2013

Dunia Dibalik “Jendela”



Ia mengantarkanku dengan pandangan dari balik pagar tempat pengantar distasiun kereta. Pagi itu aku hendak berangkat kembali merajut impian. Ku lambaikan tangan dan berbalik melangkahkan kaki yang sebenarnya cukup enggan meninggalkan kota tercinta ini. Hiruk pikuk penumpang kereta ekonomi Tegal Arum menguatkanku tentang arti pendidikan dalam hidup. Bahwa aku harus memperjuangkan semuanya di sana, diujung kota hujan yang mengajariku banyak hal, tentang pengalaman, pengetahuan atau bahkan “cinta”.  Ya cinta tentang instrumen apa adanya negeri ini.
            Kususuri gerbong bertuliskan angka enam, mencari tempat duduk sesuai dengan yang tertera pada tiket yang ku pesan beberapa hari lalu. Sempat khawatir, ketika dua orang pemuda yang sedikit “slengean” duduk disamping nomor kursiku. Mereka tertawa tak menentu sampai membuatku sedikit tidak nyaman. Hingga tak lama kemudian seorang bapak tua mangambil haknya duduk ditempat yang sama. Kedua pemuda itu pun akhirnya mengakui kesalahan mereka telah duduk ditempat yang ia sukai dibanding tempat dimana ia seharusnya. Mungkin begitulah satu potret tentang kedisiplinan kecil yang seringkali terlupakan di negeri ini. Jangankan kedisiplinan kecil, hal-hal dan tanggung jawab besar skala  nasional pun teramat sering dislewengkan.
            Laju kereta menderu mengantarkan kendaraan ini menyusuri rel-rel di tempat lain. Menjemput jarak berkilo-kilo meter diantara waktu yang juga turut bercerita tentang dinamika dibalik jendela kereta.  Ku palingkan pandangan pada cuplikan cerita “kehijauan” pertanian negeri ini, negeri yang justru tak mampu memenuhi kedaulatan pangan penduduknya. Cuplikan itu menayangkan gambaran asrinya pedesaan, petani yang menggarap “kekayaan” agraria, dan sekilas pemandangan indah lain. Tapi benarkah indah?  karena terkadang kita hanya mampu melihat pedesaan dari balik “jendela”. Tanpa benar-benar tau bagaimana kantong-kantong kemiskinan dan realitas yang ada didalamnya.
            Baru saja terlarut dengan “film” bayanganku sendiri, aku dikagetkan suara-suara ramai pedagang menjajakan dagangan. Anehnya, tepat didepan gerbong tertera tulisan “Dilarang merokok” tapi disisi lain  justru tulisan itu dikalahkan oleh suara ibu-ibu paruh baya yang lantang berteriak “Rokok pak... rokok...”. lagi-lagi ketidaksesuaian. Mungkin dunia memang tidak selamanya pada tataran idealis, seperti ibu itu yang juga tak bisa mutlak disalahkan. Ia hanya berpikir tentang bagaimana bertahan hidup mengumpulkan rupiah demi rupiah atas nama perut.
            Ujung timur Jawa Barat perlahan mulai terlewati satu demi satu. Kereta pun kini memasuki kawasan industri yang menghadirkan episode latar film yang berbeda. Aku mulai lebih tertarik bukan saja karena tempat-tempat itu sedikit berbeda dengan daerahku, tapi karena semuanya menginspirasiku untuk menjadikan cerita lewat rangkaian kata yang ingin ku-eja pada dunia.
Hembusan angin dari luar menyeruak diantara jiwa yang terpana akan film yang disutradarai Tuhan. Tempat-tempat ini menjadi saksi akan keangkuhan manusia menjajah tempat hidup mereka sendiri. Kekumuhan, sampah, ruang-ruang sempit, ketimpangan golongan borjuis dan kaum melarat menjadi latar belakang yang menyesakkan. Mungkin jika kota-kota industri ini dapat berbicara tentang apa yang ia rasakan, aku yakin mereka sudah tak sanggup melayani mahluk bernama manusia.
            Berbagai ironi kutemukan disepanjang perlintasan rel menuju stasiun Jakarta Kota. Kotak-kotak yang tersusun atas kardus ataupun kayu yang lebih pantas disebut kandang justru berisi keluarga manusia. Rumah tanpa jendela itu memelas uluran gedung-gedung pencakar langit. Seorang gadis muda seusiaku kulihat sedang rehat beralaskan tanah didekat kotak yang mereka sebut rumah. Ia menatap kearah kereta yang kutumpangi. Ia mengipaskan sobekan kardus bekas sekedar menghilangkan panas, mulutnya berkomat-kamit. Mungkin sembari menyampaikan keluhan pada orang-orang didalam “jendela”.
Rasa lapar akhirnya mengusikku, tapi rasa enggan membeli makanan yang dijajakan didalam kereta membuatku menahan sejenak. Hingga seorang ibu menjajakan minuman hangat dan mie instan rebus yang masih terbungkus rapi. Aku memberhentikan langkahnya tepat disampingku. Melihat bawaan yang cukup memberatkan jika berkali-kali menggendong sana sini, kubiarkan kursi kosong disebelahku untuk beliau beristirahat. Kupilih mie instant dengan rasa baso kemudian  mengecek tanggal kadarluarsa yang tertera dikemasan. Begitu tak ada masalah, kubiarkan ibu itu menuangkan air panas kedalam mie pesananku.
“Berapa bu?” tanyaku memastikan
“Enam ribu neng” ucap beliau singkat sembari menuangkan
“Loh biasanya kan lima ribu aja bu” balasku sedikit dengan nada heran
“Sekarang semuanya pada mahal neng, ibu juga butuh buat hidup ibu dan anak-anak. sudah jauh-jauh jualan dikereta, ya wajarkan neng harga segitu” ia mencoba memelas sembari mengungkapkan keluhan hati yang mungkin terlalu sering dirasakan
Aku terdiam mencoba memahami perasaan beliau. Ku serahkan selembar uang lima ribuan dan selembar uang kertas bertuliskan 1000.
“Makasi bu..” ucapku pelan sembari menerima mie yang sudah siap kulahap.
Sang ibu tak beranjak dari kursi disebelahku, ku mulai pembicaraan lebih lanjut dengan beliau.
“Ibu sudah lama kerja begini?” tanyaku tanpa basa-basi
“Iya neng, susah cari kerjaan buat ibu-ibu. Beban hidup pun ga sedikit neng, ya terpaksalah naik kereta sana-sini nyari duit buat hidup. Neng kuliah?” ia balik  bertanya sambil mengipas-ngipaskan tangan mengusir gerah.
“Iya bu, alhamdulillah” aku tersenyum simpul
“Ilmu itu mahal neng jangan disia-siakan”
Aku membalasnya dengan anggukan takzim. Lalu kembali terperangkap dalam pikiranku sendiri. Aku teringat tentang ucapan seorang teman dikampus yang mendaftar sebagai pengajar bimbel tapi akhirnya ia tidak melanjutkan. Saat itu aku bertanya mengapa dan ia hanya menjawab dengan ungkapan “ilmu itu mahal”. katanya dengan bayaran tak seberapa ia harus mempelajari kembali pelajaran yang dulu diantara rutinitas kuliah dan organisasi rasanya itu terlalu disayangkan.
Aku kembali mencerna ungkapan itu. Memang benar ilmu seringkali terasa mahal. Tapi siapa yang memahalkan? Kenapa pula harus dimahalkan? Bukankah Tuhan sendiri mengamanahkan kita untuk menyampaikan ilmu-Nya walau satu ayat (justru tidak disertai perihal harga menyampaikan ilmu itu sendiri). Lagi pula jika ilmu itu mahal, rasanya miris menyaksikan mereka yang tak mampu mendapat kesempatan menuntut ilmu disekolah-sekolah bahkan hingga perguruan tinggi. Meskipun disisi lain ilmu memang jauh lebih luas dari pengetahuan dan jangkauan formalitas pendidikan, tapi setidaknya semoga kelak ilmu dalam dunia pendidikan tak lagi terasa mahal.
Lagi pula harusnya dunia dari balik jendela tak harus seringkali miris, karena pada hakekatnya justru masih selalu ada buku yang mampu membawa kita ke jendela dunia yang lebih baik. Seperti tujuanku menaiki kereta ini...
            Dunia memang keras, tak banyak yang sesuai dengan harapan-harapan kita. Tentang bagaimana hidup itu selayaknya terkadang kita juga tak bisa memilih. Lalu muncul pertanyaan yang justru membingungkan, keadaan itu alami seperti dua sisi mata uang, kaya-miskin, susah-senang ataukah sebuah konstruksi sosial semata? Lalu siapa subyek yang mengkontruksikan keadaan demikian? tak pandai rasanya jika hanya menyalahkan Tuhan, bukankah Tuhan sendiri juga menghargai setiap usaha manusia yang ingin berubah? Ataukah justru manusianya sendiri yang seringkali menciptakan kedzaliman diatas bumi? Entahlah... pikiran rumitku memang seringkali menganalisis berbagai hal yang aku sendiri bingung apa jawabannya. Berbicara tentang realita kemiskinan sebagai paradoks dinegeri ini terlalu rumit bahkan untuk sekedar berretorika. Lalu kulayangkan saja beragam doa terbaik yang tulus kupersembahkan untuk sesama sebagai awal kontribusi yang belum banyak kulakukan. 
***
            Aku mengomel tak tentu arah pada cuaca siang ini. “Sial terik sekali” pikirku dalam hati. Aku keluar rumah sekedar mengharapkan angin segar ibu kota. kuambil kardus bekas sisa memulung kemaren sore. Ku kibaskan sobekan itu tepat didepan muka yang sudah seperti kepiting rebus.
“oalaaah... lo jam segini baru bangun? Ngapain aja semalem? Dapet pelanggan?” seorang tetangga berteriak sambil menggoda dan tertawa meledek.
Aku hanya diam enggan menanggapinya. Cibiran seperti itu sudah terlalu membosankan. Ku palingkan muka ke arah datangnya kereta. Kotak-kotak panjang itu selalu melintas didepan rumah, menyebabkan kebisingan yang cukup mengganggu.
Seandainya aku punya pilihan lain, sudah lama kutinggalkan tempat kumuh ini. Seperti mereka yang berada di balik jendela-jendela nyaman. Jendela kereta itu misalnya, atau jendela mobil yang seringkali menjadi tempat menengadah receh, jendela perkantoran yang menjulang, bahkan jendela gedung-gedung para penguasa negeri ini. Bukankah disana amat sangat nyaman? Tak perlulah sepertiku siang bolong begini berjemur diri. Dibalik jendela itu cukuplah mereka bersyukur akan kebaikan Tuhan melahirkannya dengan nasib beruntung.
Kucermati sekilas penumpang-penumpang kereta tadi, kulihat gadis yang kira-kira tak jauh dengan usiaku menatap begitu lama kearah sini. Herankah dia tentang pinggiran lintasan kereta yang justru berisi pentolan-pentolan kotak kardus? ataukah ia sempat sedikit iba menyaksikan panggung derita dari balik jendelanya? Ya semoga saja nurani itu masih hidup dalam setiap diri juga dalam diri bapak-bapak berdasi diatas sana. Hingga bukan lagi dengan menutup jendela mengabaikan tangan-tangan kami menengadah mengharap rupiah, namun juga mampu melakukan perubahan bukan saja untuk mereka dan golongannya tapi untuk kami yang juga tak boleh dilupakan Indonesia.
***
Cukup mengiris nurani menyaksikan “film” negeri berjudul Indonesia. Bukan seperti film kebanyakan yang berjenis horor tapi justru lebih layak disebut film porno, atau film-film percintaan klise yang tak mendidik. Tapi film yang kusaksikan hari itu sama sekali tanpa rekayasa. Semua adegan dapat kita temukan secara cuma-cuma. Asalkan nuranimu sedikit berbicara tentang ketulusan dan berusaha memahami amanah besar mahluk bernama manusia : Menjadi Khalifah di Bumi-Nya.




Jumat, 17 Mei 2013

“Suara Hati Styrofoam…”



Aku tergeletak begitu saja di pinggiran tempat sampah diujung gang gelap ini. Tubuh putihku terkotori bekas mie ayam yang aku lindugi kemarin sore. Seorang pembeli membuangku begitu saja tanpa ia berfikir akibat apa yang bisa aku timbulkan pada tubuh mereka. Manusia memang aneh, mempunyai anugerah otak yang begitu menakjubkan tapi tak sanggup memahami dan memaksimalkan potensinya…
Aku sendiri sebagai suatu bahan yang mereka sebut “Styrofoam” mulai memahami tentang hakekat diriku. Awalnya aku bangga dapat membantu manusia dengan tubuhku untuk mengengemas makanan mereka. Tapi suatu hari… aku mendengar orang berbicara mengenai diriku. Lalu kebanggaanku perlahan hilang…, karena ternyata aku dapat menimbulkan berbagai penyakit bagi tubuh manusia.
Lalu untuk apa aku dibuat oleh manusia??? Jika diri ini tak mampu membawa kemaslahatan bagi mereka…
dan ku titipkan persembahan suara hatiku untuk mereka…
# aku hanya ingin menjadi suatu hal berguna di bumiNya…
aku hanya ingin menjadi suatu hal bermanfaat di bawah langitNya…
aku juga ingin menjadi penunjang kebaikan bagi kholifahNya…
# namun…
jika angan diri terlalu tinggi,
 jika asa tak mampu lagi berwujud nyata…
biarkanlah aku using tak berguna…
hingga tak akan lagi tercipta…
jika ketidakberadaanku mampu membuat manusia lebih menghargai amanah Tuhanku dan Tuhan mereka…
Selamat tinggal manusia…
teriring cinta dariku…
“Styrofoam”


Ini Gayaku
untuk mendukung
Kampanye “Styrofoam? No, Thanks!”, Apa gayamu?