Sabtu, 02 November 2013

Malam Minggu


         Masih lekat 3 tahun lalu saat melangkahkan kaki dengan penuh tekad agar mengenal dunia perkuliahan. Lalu akhirnya tahap demi tahap Allah menyampaikan pada takdir pilihanNya. pada salah satu tahap itu, aku sempat singgah di universitas ternama dinegeri ini. Pertama kali rasanya seperti orang udik yang baru merasakan naik kereta, melihat gedung-gedung pencakar langit ibu kota setelah kenangan masa kecil silam, juga melihat megahnya bangunan yang disebut kampus. Saat itu aku melihat betapa mahasiswa memang berbeda dari segi apapun. Ada kharisma tersendiri dari title itu. Posisi yang sungguh berbeda dari keseharian aku yang masih heboh dengan seragam putih abu-abu. Keseharian yang diisi dengan beragam kegiatan, tapi kegiatan yang cenderung bukan apa-apa, kegiatan yang kurang produktif, pembelajaran yang seenak sendiri karena kepalang santai juga prespektif tentang malam minggu yang entah berawal dari konstruksi sosial siapa bahwa malam minggu dinilai ‘berbeda’. Sebagian remaja mungkin mendefinisikan berbeda adalah karena sejenak bisa rehat sekolah, liburan, atau juga mengisi malam minggu dengan agenda pacaran dan sejenisnya. Dan aku termasuk yang menilai bahwa malam minggu memang berbeda, karena tak ada istilah belajar. Kalau bukan diisi tenggelam dalam novel-novel pinjaman, menonton acara TV hingga larut malam, juga berkesempatan smsan lebih intens dengan gebetan.
Agaknya pengalaman kala singgah dikampus itu mematahkan cara pandangku tentang malam minggu. Aku terheran dan geleng-gelang kepala saat bermalam di asrama mahasiswa. Karena ternyata banyak diantara mereka yang mengisi malam minggu dengan asyik dikamar asrama yang kecil itu. Mereka antusias menenggelamkan diri dengan laptop dan setumpuk buku-buku yang entah berapa ratus halaman. Istimewa. Melakukan hal yang tidak biasa. Hingga akhirnya malam ini aku berkesempatan mengenang pengalaman itu, lalu menertawakan diri sendiri karena entah malam minggu keberapa, aku masih melarutkan diri dengan beragam tugas, belajar, atau kepentingan organisasi. Kini aku yang berbeda posisi dari 3 tahun silam juga melihat diriku sebagai mahasiswa yang aku lihat saat itu. Dan aku lebih mengerti bahwa setiap orang memiliki cara pandang, kepentingan dan alasannya masing-masing. Atau bahkan terkadang hidup bukan melulu tentang pilhan, tapi justru hidup itu sendiri yang tak menyisakan pilihan.
Itulah hidup. Perputarannya begitu sempurna tanpa cela menunjukan kekuasaan Tuhan. Juga menunjukan bahwa manusia bermetamorfosis dari waktu ke waktu hingga menua. Semoga setiap perubahan apapun itu senantiasa mengarah pada kebaikan dan keridhoanNya. Bukan saja tentang prespektif malam minggu tapi juga tentang banyak hal disekeliling kita. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar