Masih
lekat 3 tahun lalu saat melangkahkan kaki dengan penuh tekad agar mengenal
dunia perkuliahan. Lalu akhirnya tahap demi tahap Allah menyampaikan pada
takdir pilihanNya. pada salah satu tahap itu, aku sempat singgah di universitas
ternama dinegeri ini. Pertama kali rasanya seperti orang udik yang baru merasakan
naik kereta, melihat gedung-gedung pencakar langit ibu kota setelah kenangan
masa kecil silam, juga melihat megahnya bangunan yang disebut kampus. Saat itu
aku melihat betapa mahasiswa memang berbeda dari segi apapun. Ada kharisma tersendiri
dari title itu. Posisi yang sungguh berbeda dari keseharian aku yang masih
heboh dengan seragam putih abu-abu. Keseharian yang diisi dengan beragam
kegiatan, tapi kegiatan yang cenderung bukan apa-apa, kegiatan yang kurang
produktif, pembelajaran yang seenak sendiri karena kepalang santai juga
prespektif tentang malam minggu yang entah berawal dari konstruksi sosial siapa
bahwa malam minggu dinilai ‘berbeda’. Sebagian remaja mungkin mendefinisikan
berbeda adalah karena sejenak bisa rehat sekolah, liburan, atau juga mengisi
malam minggu dengan agenda pacaran dan sejenisnya. Dan aku termasuk yang
menilai bahwa malam minggu memang berbeda, karena tak ada istilah belajar. Kalau
bukan diisi tenggelam dalam novel-novel pinjaman, menonton acara TV hingga larut
malam, juga berkesempatan smsan lebih intens dengan gebetan.
Agaknya
pengalaman kala singgah dikampus itu mematahkan cara pandangku tentang malam
minggu. Aku terheran dan geleng-gelang kepala saat bermalam di asrama
mahasiswa. Karena ternyata banyak diantara mereka yang mengisi malam minggu
dengan asyik dikamar asrama yang kecil itu. Mereka antusias menenggelamkan diri
dengan laptop dan setumpuk buku-buku yang entah berapa ratus halaman. Istimewa.
Melakukan hal yang tidak biasa. Hingga akhirnya malam ini aku berkesempatan
mengenang pengalaman itu, lalu menertawakan diri sendiri karena entah malam
minggu keberapa, aku masih melarutkan diri dengan beragam tugas, belajar, atau
kepentingan organisasi. Kini aku yang berbeda posisi dari 3 tahun silam juga
melihat diriku sebagai mahasiswa yang aku lihat saat itu. Dan aku lebih
mengerti bahwa setiap orang memiliki cara pandang, kepentingan dan alasannya
masing-masing. Atau bahkan terkadang hidup bukan melulu tentang pilhan, tapi
justru hidup itu sendiri yang tak menyisakan pilihan.
Itulah
hidup. Perputarannya begitu sempurna tanpa cela menunjukan kekuasaan Tuhan. Juga
menunjukan bahwa manusia bermetamorfosis dari waktu ke waktu hingga menua. Semoga
setiap perubahan apapun itu senantiasa mengarah pada kebaikan dan keridhoanNya.
Bukan saja tentang prespektif malam minggu tapi juga tentang banyak hal
disekeliling kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar