Mempercepat masa perkuliahan bagi sebagian orang itu
menjadi cukup dilematis. Tapi bagi sebagian yang lain pasti tak menolak,
asalkan berkapasitas. Beragam alasan terkadang memang rasional, misalnya karena
masih ingin mengeksplorasi diri dengan beragam kegiatan, atau sekedar menikmati
masa-masa itu tanpa harus buru-buru mengakhirinya. Karena terkadang juga dunia
kerja jauh lebih ‘dramatis’ dari dunia kampus. Awalnya aku memiliki alasan
demikian. Sama seperti ketika dulu terlalu takut mengakhiri masa SMA dan dunia
perkuliahan masih menjadi impian yang abu-abu. Atau bahasa ‘sok’nya aku terlalu
mencintai proses pembelajaran :)
Lalu
perlahan, aku menyadari bahwa proses pembelajaran itu bukanlah proses
pendidikan seperti sekolah atau kuliah. Pembelajaran adalah proses seumur
hidup. Ia tak pernah selesai. Karena belajar adalah proses berfikir dan
memaknai hidup lewat apapun itu kemudian menjadikannya lebih baik dari waktu ke
waktu. Dan kata akselerasi menjadi tuntutan ditengah keluarga yang semakin
perlu dibantu. Bukan saja melulu tentang keegoisan impian sendiri. Maka
mempercepat masa kuliah berarti segera memutus aliran dana yang memberatkan,
karena akselerasi berarti menantang diri dibawah tekanan, karena akselerasi
juga berarti mempercepat masuk dunia kerja lalu membantu mereka! sesederhana
itu kondisi eksternal mendoktrin diri sebagai motivasi. Bukan terlalu ngoyo
atau sok. Tapi karena setiap orang memiliki alasan yang berbeda. Dan alasan
lain adalah karena beban negara. Rasanya selalu ironis bahkan meneteskan air
mata setiap kali melihat tayangan dokumenter dilayar kaca. Menyadari betapa
terlalu banyak masyarakat marjinal bertaruh hidup sedemikian sulit dinegeri ini.
Sedangkan aku? Berfikir berkali-kali seberapa pantas hidup dari tanggungan negara,
mengorbankan hidup diatas jeritan mereka. Tragis. Maka mempercepat semuanya
semoga menjadi jalan terbaik untuk hidup yan lebih baik didepan sana.
Tapi
akselerasi akhir-akhir ini menjadi
sebuah impian yang cukup menakutkan. Antara sanggup atau tidak. Dan pada
akhirnya sedikit berempati pada diri sendiri, ketika justru takut yang lebih
dominan lalu apa lagi yang bisa dilakukan? Impian akan kalah tanpa tekad dan
semangat. Menurut seorang teman “Namanya juga hidup, kalo bukan kita yang
semangat… mau dibawa kemana hidup kita. Semangat itu jalan satu-satunya
mewujudkan tujuan (ESB).” ya semangat bertekad dengan usaha dan doa, hanya
itu yang bisa dilakukan untuk sekarang. Semoga impian 2014 wisuda bukan sekedar
angan. Semoga!

Semangat sista...
BalasHapusMay Allah give us power to fulfill our dream, follow your feeling,,,and feel it :D