Jumat, 01 November 2013

Akselerasi



            Mempercepat masa perkuliahan bagi sebagian orang itu menjadi cukup dilematis. Tapi bagi sebagian yang lain pasti tak menolak, asalkan berkapasitas. Beragam alasan terkadang memang rasional, misalnya karena masih ingin mengeksplorasi diri dengan beragam kegiatan, atau sekedar menikmati masa-masa itu tanpa harus buru-buru mengakhirinya. Karena terkadang juga dunia kerja jauh lebih ‘dramatis’ dari dunia kampus. Awalnya aku memiliki alasan demikian. Sama seperti ketika dulu terlalu takut mengakhiri masa SMA dan dunia perkuliahan masih menjadi impian yang abu-abu. Atau bahasa ‘sok’nya aku terlalu mencintai proses pembelajaran :) 
Lalu perlahan, aku menyadari bahwa proses pembelajaran itu bukanlah proses pendidikan seperti sekolah atau kuliah. Pembelajaran adalah proses seumur hidup. Ia tak pernah selesai. Karena belajar adalah proses berfikir dan memaknai hidup lewat apapun itu kemudian menjadikannya lebih baik dari waktu ke waktu. Dan kata akselerasi menjadi tuntutan ditengah keluarga yang semakin perlu dibantu. Bukan saja melulu tentang keegoisan impian sendiri. Maka mempercepat masa kuliah berarti segera memutus aliran dana yang memberatkan, karena akselerasi berarti menantang diri dibawah tekanan, karena akselerasi juga berarti mempercepat masuk dunia kerja lalu membantu mereka! sesederhana itu kondisi eksternal mendoktrin diri sebagai motivasi. Bukan terlalu ngoyo atau sok. Tapi karena setiap orang memiliki alasan yang berbeda. Dan alasan lain adalah karena beban negara. Rasanya selalu ironis bahkan meneteskan air mata setiap kali melihat tayangan dokumenter dilayar kaca. Menyadari betapa terlalu banyak masyarakat marjinal bertaruh hidup sedemikian sulit dinegeri ini. Sedangkan aku? Berfikir berkali-kali seberapa pantas hidup dari tanggungan negara, mengorbankan hidup diatas jeritan mereka. Tragis. Maka mempercepat semuanya semoga menjadi jalan terbaik untuk hidup yan lebih baik didepan sana.
Tapi akselerasi akhir-akhir ini menjadi  sebuah impian yang cukup menakutkan. Antara sanggup atau tidak. Dan pada akhirnya sedikit berempati pada diri sendiri, ketika justru takut yang lebih dominan lalu apa lagi yang bisa dilakukan? Impian akan kalah tanpa tekad dan semangat.  Menurut seorang teman “Namanya juga hidup, kalo bukan kita yang semangat… mau dibawa kemana hidup kita. Semangat itu jalan satu-satunya mewujudkan tujuan (ESB).” ya semangat bertekad dengan usaha dan doa, hanya itu yang bisa dilakukan untuk sekarang. Semoga impian 2014 wisuda bukan sekedar angan. Semoga!
            


1 komentar:

  1. Semangat sista...
    May Allah give us power to fulfill our dream, follow your feeling,,,and feel it :D

    BalasHapus