Rabu, 22 Mei 2013

Dunia Dibalik “Jendela”



Ia mengantarkanku dengan pandangan dari balik pagar tempat pengantar distasiun kereta. Pagi itu aku hendak berangkat kembali merajut impian. Ku lambaikan tangan dan berbalik melangkahkan kaki yang sebenarnya cukup enggan meninggalkan kota tercinta ini. Hiruk pikuk penumpang kereta ekonomi Tegal Arum menguatkanku tentang arti pendidikan dalam hidup. Bahwa aku harus memperjuangkan semuanya di sana, diujung kota hujan yang mengajariku banyak hal, tentang pengalaman, pengetahuan atau bahkan “cinta”.  Ya cinta tentang instrumen apa adanya negeri ini.
            Kususuri gerbong bertuliskan angka enam, mencari tempat duduk sesuai dengan yang tertera pada tiket yang ku pesan beberapa hari lalu. Sempat khawatir, ketika dua orang pemuda yang sedikit “slengean” duduk disamping nomor kursiku. Mereka tertawa tak menentu sampai membuatku sedikit tidak nyaman. Hingga tak lama kemudian seorang bapak tua mangambil haknya duduk ditempat yang sama. Kedua pemuda itu pun akhirnya mengakui kesalahan mereka telah duduk ditempat yang ia sukai dibanding tempat dimana ia seharusnya. Mungkin begitulah satu potret tentang kedisiplinan kecil yang seringkali terlupakan di negeri ini. Jangankan kedisiplinan kecil, hal-hal dan tanggung jawab besar skala  nasional pun teramat sering dislewengkan.
            Laju kereta menderu mengantarkan kendaraan ini menyusuri rel-rel di tempat lain. Menjemput jarak berkilo-kilo meter diantara waktu yang juga turut bercerita tentang dinamika dibalik jendela kereta.  Ku palingkan pandangan pada cuplikan cerita “kehijauan” pertanian negeri ini, negeri yang justru tak mampu memenuhi kedaulatan pangan penduduknya. Cuplikan itu menayangkan gambaran asrinya pedesaan, petani yang menggarap “kekayaan” agraria, dan sekilas pemandangan indah lain. Tapi benarkah indah?  karena terkadang kita hanya mampu melihat pedesaan dari balik “jendela”. Tanpa benar-benar tau bagaimana kantong-kantong kemiskinan dan realitas yang ada didalamnya.
            Baru saja terlarut dengan “film” bayanganku sendiri, aku dikagetkan suara-suara ramai pedagang menjajakan dagangan. Anehnya, tepat didepan gerbong tertera tulisan “Dilarang merokok” tapi disisi lain  justru tulisan itu dikalahkan oleh suara ibu-ibu paruh baya yang lantang berteriak “Rokok pak... rokok...”. lagi-lagi ketidaksesuaian. Mungkin dunia memang tidak selamanya pada tataran idealis, seperti ibu itu yang juga tak bisa mutlak disalahkan. Ia hanya berpikir tentang bagaimana bertahan hidup mengumpulkan rupiah demi rupiah atas nama perut.
            Ujung timur Jawa Barat perlahan mulai terlewati satu demi satu. Kereta pun kini memasuki kawasan industri yang menghadirkan episode latar film yang berbeda. Aku mulai lebih tertarik bukan saja karena tempat-tempat itu sedikit berbeda dengan daerahku, tapi karena semuanya menginspirasiku untuk menjadikan cerita lewat rangkaian kata yang ingin ku-eja pada dunia.
Hembusan angin dari luar menyeruak diantara jiwa yang terpana akan film yang disutradarai Tuhan. Tempat-tempat ini menjadi saksi akan keangkuhan manusia menjajah tempat hidup mereka sendiri. Kekumuhan, sampah, ruang-ruang sempit, ketimpangan golongan borjuis dan kaum melarat menjadi latar belakang yang menyesakkan. Mungkin jika kota-kota industri ini dapat berbicara tentang apa yang ia rasakan, aku yakin mereka sudah tak sanggup melayani mahluk bernama manusia.
            Berbagai ironi kutemukan disepanjang perlintasan rel menuju stasiun Jakarta Kota. Kotak-kotak yang tersusun atas kardus ataupun kayu yang lebih pantas disebut kandang justru berisi keluarga manusia. Rumah tanpa jendela itu memelas uluran gedung-gedung pencakar langit. Seorang gadis muda seusiaku kulihat sedang rehat beralaskan tanah didekat kotak yang mereka sebut rumah. Ia menatap kearah kereta yang kutumpangi. Ia mengipaskan sobekan kardus bekas sekedar menghilangkan panas, mulutnya berkomat-kamit. Mungkin sembari menyampaikan keluhan pada orang-orang didalam “jendela”.
Rasa lapar akhirnya mengusikku, tapi rasa enggan membeli makanan yang dijajakan didalam kereta membuatku menahan sejenak. Hingga seorang ibu menjajakan minuman hangat dan mie instan rebus yang masih terbungkus rapi. Aku memberhentikan langkahnya tepat disampingku. Melihat bawaan yang cukup memberatkan jika berkali-kali menggendong sana sini, kubiarkan kursi kosong disebelahku untuk beliau beristirahat. Kupilih mie instant dengan rasa baso kemudian  mengecek tanggal kadarluarsa yang tertera dikemasan. Begitu tak ada masalah, kubiarkan ibu itu menuangkan air panas kedalam mie pesananku.
“Berapa bu?” tanyaku memastikan
“Enam ribu neng” ucap beliau singkat sembari menuangkan
“Loh biasanya kan lima ribu aja bu” balasku sedikit dengan nada heran
“Sekarang semuanya pada mahal neng, ibu juga butuh buat hidup ibu dan anak-anak. sudah jauh-jauh jualan dikereta, ya wajarkan neng harga segitu” ia mencoba memelas sembari mengungkapkan keluhan hati yang mungkin terlalu sering dirasakan
Aku terdiam mencoba memahami perasaan beliau. Ku serahkan selembar uang lima ribuan dan selembar uang kertas bertuliskan 1000.
“Makasi bu..” ucapku pelan sembari menerima mie yang sudah siap kulahap.
Sang ibu tak beranjak dari kursi disebelahku, ku mulai pembicaraan lebih lanjut dengan beliau.
“Ibu sudah lama kerja begini?” tanyaku tanpa basa-basi
“Iya neng, susah cari kerjaan buat ibu-ibu. Beban hidup pun ga sedikit neng, ya terpaksalah naik kereta sana-sini nyari duit buat hidup. Neng kuliah?” ia balik  bertanya sambil mengipas-ngipaskan tangan mengusir gerah.
“Iya bu, alhamdulillah” aku tersenyum simpul
“Ilmu itu mahal neng jangan disia-siakan”
Aku membalasnya dengan anggukan takzim. Lalu kembali terperangkap dalam pikiranku sendiri. Aku teringat tentang ucapan seorang teman dikampus yang mendaftar sebagai pengajar bimbel tapi akhirnya ia tidak melanjutkan. Saat itu aku bertanya mengapa dan ia hanya menjawab dengan ungkapan “ilmu itu mahal”. katanya dengan bayaran tak seberapa ia harus mempelajari kembali pelajaran yang dulu diantara rutinitas kuliah dan organisasi rasanya itu terlalu disayangkan.
Aku kembali mencerna ungkapan itu. Memang benar ilmu seringkali terasa mahal. Tapi siapa yang memahalkan? Kenapa pula harus dimahalkan? Bukankah Tuhan sendiri mengamanahkan kita untuk menyampaikan ilmu-Nya walau satu ayat (justru tidak disertai perihal harga menyampaikan ilmu itu sendiri). Lagi pula jika ilmu itu mahal, rasanya miris menyaksikan mereka yang tak mampu mendapat kesempatan menuntut ilmu disekolah-sekolah bahkan hingga perguruan tinggi. Meskipun disisi lain ilmu memang jauh lebih luas dari pengetahuan dan jangkauan formalitas pendidikan, tapi setidaknya semoga kelak ilmu dalam dunia pendidikan tak lagi terasa mahal.
Lagi pula harusnya dunia dari balik jendela tak harus seringkali miris, karena pada hakekatnya justru masih selalu ada buku yang mampu membawa kita ke jendela dunia yang lebih baik. Seperti tujuanku menaiki kereta ini...
            Dunia memang keras, tak banyak yang sesuai dengan harapan-harapan kita. Tentang bagaimana hidup itu selayaknya terkadang kita juga tak bisa memilih. Lalu muncul pertanyaan yang justru membingungkan, keadaan itu alami seperti dua sisi mata uang, kaya-miskin, susah-senang ataukah sebuah konstruksi sosial semata? Lalu siapa subyek yang mengkontruksikan keadaan demikian? tak pandai rasanya jika hanya menyalahkan Tuhan, bukankah Tuhan sendiri juga menghargai setiap usaha manusia yang ingin berubah? Ataukah justru manusianya sendiri yang seringkali menciptakan kedzaliman diatas bumi? Entahlah... pikiran rumitku memang seringkali menganalisis berbagai hal yang aku sendiri bingung apa jawabannya. Berbicara tentang realita kemiskinan sebagai paradoks dinegeri ini terlalu rumit bahkan untuk sekedar berretorika. Lalu kulayangkan saja beragam doa terbaik yang tulus kupersembahkan untuk sesama sebagai awal kontribusi yang belum banyak kulakukan. 
***
            Aku mengomel tak tentu arah pada cuaca siang ini. “Sial terik sekali” pikirku dalam hati. Aku keluar rumah sekedar mengharapkan angin segar ibu kota. kuambil kardus bekas sisa memulung kemaren sore. Ku kibaskan sobekan itu tepat didepan muka yang sudah seperti kepiting rebus.
“oalaaah... lo jam segini baru bangun? Ngapain aja semalem? Dapet pelanggan?” seorang tetangga berteriak sambil menggoda dan tertawa meledek.
Aku hanya diam enggan menanggapinya. Cibiran seperti itu sudah terlalu membosankan. Ku palingkan muka ke arah datangnya kereta. Kotak-kotak panjang itu selalu melintas didepan rumah, menyebabkan kebisingan yang cukup mengganggu.
Seandainya aku punya pilihan lain, sudah lama kutinggalkan tempat kumuh ini. Seperti mereka yang berada di balik jendela-jendela nyaman. Jendela kereta itu misalnya, atau jendela mobil yang seringkali menjadi tempat menengadah receh, jendela perkantoran yang menjulang, bahkan jendela gedung-gedung para penguasa negeri ini. Bukankah disana amat sangat nyaman? Tak perlulah sepertiku siang bolong begini berjemur diri. Dibalik jendela itu cukuplah mereka bersyukur akan kebaikan Tuhan melahirkannya dengan nasib beruntung.
Kucermati sekilas penumpang-penumpang kereta tadi, kulihat gadis yang kira-kira tak jauh dengan usiaku menatap begitu lama kearah sini. Herankah dia tentang pinggiran lintasan kereta yang justru berisi pentolan-pentolan kotak kardus? ataukah ia sempat sedikit iba menyaksikan panggung derita dari balik jendelanya? Ya semoga saja nurani itu masih hidup dalam setiap diri juga dalam diri bapak-bapak berdasi diatas sana. Hingga bukan lagi dengan menutup jendela mengabaikan tangan-tangan kami menengadah mengharap rupiah, namun juga mampu melakukan perubahan bukan saja untuk mereka dan golongannya tapi untuk kami yang juga tak boleh dilupakan Indonesia.
***
Cukup mengiris nurani menyaksikan “film” negeri berjudul Indonesia. Bukan seperti film kebanyakan yang berjenis horor tapi justru lebih layak disebut film porno, atau film-film percintaan klise yang tak mendidik. Tapi film yang kusaksikan hari itu sama sekali tanpa rekayasa. Semua adegan dapat kita temukan secara cuma-cuma. Asalkan nuranimu sedikit berbicara tentang ketulusan dan berusaha memahami amanah besar mahluk bernama manusia : Menjadi Khalifah di Bumi-Nya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar