Jumat, 10 Mei 2013

Sepotong Cerita Tentang Semesta


Bagi seseorang sepertiku yang jarang sekali melihat dunia karena segala keterbatasannya, menjadi rumput liar itu indah. Berdiri tangguh dalam dekapan keanggunan semesta, menikmati setiap mozaik massa dengan sederhana, lalu tertunduk takzim menghayati kehebatan Sang Pencipta. Seperti hari ini kesempatan untuk berada disatu tempat Allah yang lain. Tercengang, memuji, hingga belajar dari semua yang memberikan makna tersirat bagi mahluk berakal bernama manusia. Seperti schorates yang menyatakan bahwa “aku berfikir maka aku ada”, maka berfikir menjadi suatu hal yang tak terpisahkan.
            Otakku mulai berfikir akan kemana laju kendaraan ini membawa kami. Dengan pengetahuan jalan yang tak seberapa, namun hanya bermodal satu tekad untuk melihat kebesaran Allah ditempat yang belum kami ketahui. kami tetap menyusuri jalanan dalam tempias hujan siang itu. Kelokan demi kelokan, lubang demi lubang jalan dan segala hal yang ada dalam potret transportasi Indonesia hadir menemani. Hingga lantunan adzan diantara teduhnya hawa pedesaan, menghentikan laju sepeda motor yang kami naiki. sejenak kembali menghadap pada siapa yang memiliki segalanya. Memohon berbagai hal yang tersimpan dalam hati untuk keselamatan dan petunjuk jalan.
            Udara mulai begitu dingin, ku eratkan jaket yang semenjak tadi tak kuhiraukan. Rasanya ingin sekali kembali pulang diantara keraguan jalanan. “sudah sejauh ini tanggung bentar lagi” begitu suaranya menyakinkan bahwa tujuan diujung sana segera menjelma menjadi nyata. Karena terkadang manusia menyerah justru ketika ia sudah sangat dekat dengan apa yang diharapkan. Hakekatnya hal itu menjadi takaran seberapa sabar kita untuk mendapatkannya.  Lalu ungkapan itu pun terbukti pada kami, dari masjid tempat kami sholat tempat tujuan itu hanya tinggal 1km lagi. Girang bukan kepalang menanti bayaran dari perjalanan panjang ini.
            Akhirnya sampailah kami di satu desa yang jauh dari keramaian kota. Objek wisata air terjun atau dalam bahasa daerah disebut “curug” Muara Jaya yang terletak di Desa Argamukti Kabupaten Majalengka ini menjadi tujuan beberapa pengunjung yang jauh-jauh datang. Satu sisi menyita perhatian kami, didepan halaman sebuah rumah terpampang poster kuliah kerja profesi mahasiswa dari salah satu kampus ternama Indonesia yang juga pernah menjadi kampus impianku dulu. Lalu aku berfikir ketika nanti mengalami masa KKP itu, mampukah aku dan teman-teman nanti melakukan suatu hal bagi masyarakat setempat atau bahkan kelak bagi rakyat negeri ini? Malu rasanya jika kelak menyandang gelar sarjana komunikasi dan pengembangan masyarakat namun justru tak mampu memberikan kontribusi bagi orang lain.
            Rangkaian anak tangga menyambut kami menuju air terjun. Diantara nafas yang mulai tersengal sembari berfoto mengabadikan waktu yang seringkali begitu angkuh berputar. Lalu akhirnya tampak air terjun mempesona dipelupuk mata. Satu bagian semesta yang tak malu menunjukkan dirinya. Ia muncul menghadirkan kebanggaan menjadi satu gambar nyata dalam lukisan Tuhan dimana bumi sebagai kanvasnya. Semua begitu indah tertata, karena penciptanya Sang Maha Sempurna.
            Kami tersenyum menatap air terjun yang menjulang diantara tebing semak belukar serta merasakan tempias uap air yang jatuh dari ketinggian. Inilah bagian waktu yang akan terekam dalam pikiran, menghadirkan pengalaman dan pembelajaran. Belajar dari semesta untuk hidup bersamanya secara bijaksana. (TSY)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar