Bagi
seseorang sepertiku yang jarang sekali melihat dunia karena segala
keterbatasannya, menjadi rumput liar itu indah. Berdiri tangguh dalam dekapan
keanggunan semesta, menikmati setiap mozaik massa dengan sederhana, lalu
tertunduk takzim menghayati kehebatan Sang Pencipta. Seperti hari ini
kesempatan untuk berada disatu tempat Allah yang lain. Tercengang, memuji,
hingga belajar dari semua yang memberikan makna tersirat bagi mahluk berakal
bernama manusia. Seperti schorates yang menyatakan bahwa “aku berfikir maka aku
ada”, maka berfikir menjadi suatu hal yang tak terpisahkan.
Otakku mulai berfikir akan kemana
laju kendaraan ini membawa kami. Dengan pengetahuan jalan yang tak seberapa,
namun hanya bermodal satu tekad untuk melihat kebesaran Allah ditempat yang
belum kami ketahui. kami tetap menyusuri jalanan dalam tempias hujan siang itu.
Kelokan demi kelokan, lubang demi lubang jalan dan segala hal yang ada dalam
potret transportasi Indonesia hadir menemani. Hingga lantunan adzan diantara
teduhnya hawa pedesaan, menghentikan laju sepeda motor yang kami naiki. sejenak
kembali menghadap pada siapa yang memiliki segalanya. Memohon berbagai hal yang
tersimpan dalam hati untuk keselamatan dan petunjuk jalan.
Udara mulai begitu dingin, ku
eratkan jaket yang semenjak tadi tak kuhiraukan. Rasanya ingin sekali kembali
pulang diantara keraguan jalanan. “sudah sejauh ini tanggung bentar lagi”
begitu suaranya menyakinkan bahwa tujuan diujung sana segera menjelma menjadi nyata.
Karena terkadang manusia menyerah justru ketika ia sudah sangat dekat dengan
apa yang diharapkan. Hakekatnya hal itu menjadi takaran seberapa sabar kita
untuk mendapatkannya. Lalu ungkapan itu
pun terbukti pada kami, dari masjid tempat kami sholat tempat tujuan itu hanya
tinggal 1km lagi. Girang bukan kepalang menanti bayaran dari perjalanan panjang
ini.
Akhirnya sampailah kami di satu desa
yang jauh dari keramaian kota. Objek wisata air terjun atau dalam bahasa daerah
disebut “curug” Muara Jaya yang terletak di Desa Argamukti Kabupaten Majalengka
ini menjadi tujuan beberapa pengunjung yang jauh-jauh datang. Satu sisi menyita
perhatian kami, didepan halaman sebuah rumah terpampang poster kuliah kerja
profesi mahasiswa dari salah satu kampus ternama Indonesia yang juga pernah
menjadi kampus impianku dulu. Lalu aku berfikir ketika nanti mengalami masa KKP
itu, mampukah aku dan teman-teman nanti melakukan suatu hal bagi masyarakat
setempat atau bahkan kelak bagi rakyat negeri ini? Malu rasanya jika kelak
menyandang gelar sarjana komunikasi dan pengembangan masyarakat namun justru
tak mampu memberikan kontribusi bagi orang lain.
Rangkaian anak tangga menyambut kami
menuju air terjun. Diantara nafas yang mulai tersengal sembari berfoto
mengabadikan waktu yang seringkali begitu angkuh berputar. Lalu akhirnya tampak
air terjun mempesona dipelupuk mata. Satu bagian semesta yang tak malu
menunjukkan dirinya. Ia muncul menghadirkan kebanggaan menjadi satu gambar
nyata dalam lukisan Tuhan dimana bumi sebagai kanvasnya. Semua begitu indah
tertata, karena penciptanya Sang Maha Sempurna.
Kami tersenyum menatap air terjun yang menjulang diantara
tebing semak belukar serta merasakan tempias uap air yang jatuh dari
ketinggian. Inilah bagian waktu yang akan terekam dalam pikiran, menghadirkan
pengalaman dan pembelajaran. Belajar dari semesta untuk hidup bersamanya secara
bijaksana. (TSY)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar