"Sebaik-baik
manusia diantaramu adalah yang paling
banyak manfaatnya bagi orang lain." (HR. Bukhari dan Muslim)
banyak manfaatnya bagi orang lain." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits
diatas menggambarkan bagaimana kita sebagai manusia mempunyai PR besar dalam
menjalankan salah satu fungsi mendasar sebagai khalifah di bumi Allah SWT.
Seorang khalifah tidak saja bertugas untuk beribadah pada Rabbnya, namun lebih
dari itu ia harus mampu menyeimbangkan hubungan secara fertikal dan horizontal.
Hubungan fertikal diartikan sebagai hubungan manusia dengan Allah SWT,
sedangkan hubungan horizontal melihat bagaimana setiap individu berinteraksi
dengan mahluk lain. Dengan demikian sangatlah relevan jika analogi tingkat
kebaikan manusia juga diukur oleh kebermanfaatan insan tersebut bagi orang lain
baik dalam skala keluarga, agama atau bahkan negara.
Ruang implementasi
seseorang yang hendak berkontribusi untuk sesama salah satunya adalah melalui
pengabdian kecil pada negara. Kondisi Indonesia saat ini terbilang rumit.
Banyak aspek yang perlu penanganan nyata dalam menyelesaikan persoalan.
Terlebih pada masyarakat kalangan bawah yang seringkali terlupakan oleh
dinamika struktural dan panggung-panggung kekuasaan. Bukan menjadi rahasia,
bahwa mayoritas penduduk negeri ini hidup dibawah garis kemiskinan. Naasnya
lagi, kondisi demikian dialami secara berkepanjangan. Tidak saja zaman
penjajahan yang gagah dengan kolonialismenya, atau zaman orde baru yang angkuh
dengan manipulasi sistem otoriter, serta zaman pasca reformasi hingga sekarang
yang penuh retorika demokrasi tanpa kemajuan yang berkelanjutan.
Melihat
kondisi yang bertajuk ironi terbilang mudah ditemui di Indonesia. Bermacam
tayangan berita di TV atau media massa lain pun banyak menayangkan kondisi
demikian. Dimulai dengan kasus kekerasan, pelecehan seksual, kemiskinan, hingga
korupsi. Permasalahan ini pada akhirnya menciptakan rantai ketergantungan yang
saling berpengaruh. Sebagai contoh, trend korupsi menimbulkan suatu ketimpangan
akses dan kontrol terhadap sumberdaya. Pada akhirnya ketimpangan tersebut
menciptakan rantai permasalahan baru berupa kemiskinan. Rakyat yang terbelenggu
dalam kemiskinan kian diperparah dengan kasus kriminal yang dijadikan sebagai
suatu pelarian untuk mereka bertahan hidup.
Merenungi
fenomena sosial yang terjadi di masyarakat memunculkan suatu pertanyaan
tersendiri. Pertanyaannya adalah dimana letak esensi agama rahmatan lil ‘alamin
dalam kehidupan pemeluk islam sebagai mayoritas penduduk Indonesia?. berkaitan
dengan hal ini bukan agama yang berhak disalahkan, karena islam adalah ajaran
agama yang sempurna. Hanya saja seringkali manusia mengabaikan hakekat amanah
terbesarnya sebagai mahluk yang Allah SWT ciptakan. Dalam beberapa ayat
Al-qur’an dijelaskan pula bahwa manusia memang rawan terjerumus dalam
sifat-sifat dzalim. Sifat demikian menjadi cerminan nyata bahwa sebagai mahluk
yang diberikan hati nurani, akal dan nafsu, manusia perlu mengendalikan
ketiganya agar selaras dengan ajaran islam untuk terciptanya kehidupan yang
lebih baik.
Berbagai
upaya dapat dilakukan sebagai wujud implementasi. Misalnya mengetahui kondisi
Indonesia yang terbelenggu dalam permasalahan, maka setiap diri berupaya
memberikan kontribusi terbaiknya. Sumbangsih pada sesama terlebih pada negara
tidak harus dipandang sebagai keharusan melakukan hal-hal besar. Lebih dari itu
setiap kontribusi diri perlu diupayakan dan dihargai sekecil apapun bentuknya.
Sebagai contoh menanggapi kemiskinan, kita perlu meniatkan diri dan mendorong
orang lain untuk berbagi pada sesama, melakukan pemberdayaan dalam
program-program swadaya skala kecil atau bahkan menjadi penggerak disektor
ekonomi informal berbasis social enterpreuner, penggerak sektor pendidikan
melalui kesediaan mengajar bagi mereka yang tak tersentuh sekolah, ataupun
sebagai pejuang ekologi yang selama ini kian memburuk, dll.
Semua
bentuk kontribusi harus dipelopori oleh pejuang-pejuang muda sebagai agen
perubahan Indonesia yang lebih berkualitas. Hal ini disebabkan generasi muda
akan lebih potensial. Potensi ini harus didorong pada bentuk-bentuk positif
seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bukan generasi yang justru
memperparah keadaan. Misalnya kaum muda yang memiliki kebiasaan hedonis dan
tidak peka terhadap kodisi sosial, perlu diarahkan untuk lebih memahami hakekat
hidup yang diajarkan agama.
Dengan
demikian, salah satu ayat yang Allah firmankan yang berarti “Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di
muka bumi” (QS.35:39) dapat dipahami sebagai amanah untuk melakukan perubahan.
Perubahan pun dapat terwujud melalui kontribusi setiap diri dalam menjaga dan
memelihara kehidupan di bumi-Nya terutama bagi generasi muda. Generasi muda
yang dimaksudkan harus mampu melakukan progresnya dengan sungguh-sungguh dan
tidak mengulang kesalahan generasi sebelumnya. Selain itu mampu memberikan
sumbangsih sekecil apapun untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik sebagai
generasi pejuang yang peduli bumi dan generasi perubahan yang lebih
memanusiakan manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar