Jumat, 17 Mei 2013

Generasi Perubahan yang Lebih Memanusiakan Manusia




"Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling 
banyak manfaatnya bagi orang lain." (HR. Bukhari dan Muslim)
                Hadits diatas menggambarkan bagaimana kita sebagai manusia mempunyai PR besar dalam menjalankan salah satu fungsi mendasar sebagai khalifah di bumi Allah SWT. Seorang khalifah tidak saja bertugas untuk beribadah pada Rabbnya, namun lebih dari itu ia harus mampu menyeimbangkan hubungan secara fertikal dan horizontal. Hubungan fertikal diartikan sebagai hubungan manusia dengan Allah SWT, sedangkan hubungan horizontal melihat bagaimana setiap individu berinteraksi dengan mahluk lain. Dengan demikian sangatlah relevan jika analogi tingkat kebaikan manusia juga diukur oleh kebermanfaatan insan tersebut bagi orang lain baik dalam skala keluarga, agama atau bahkan negara.
Ruang implementasi seseorang yang hendak berkontribusi untuk sesama salah satunya adalah melalui pengabdian kecil pada negara. Kondisi Indonesia saat ini terbilang rumit. Banyak aspek yang perlu penanganan nyata dalam menyelesaikan persoalan. Terlebih pada masyarakat kalangan bawah yang seringkali terlupakan oleh dinamika struktural dan panggung-panggung kekuasaan. Bukan menjadi rahasia, bahwa mayoritas penduduk negeri ini hidup dibawah garis kemiskinan. Naasnya lagi, kondisi demikian dialami secara berkepanjangan. Tidak saja zaman penjajahan yang gagah dengan kolonialismenya, atau zaman orde baru yang angkuh dengan manipulasi sistem otoriter, serta zaman pasca reformasi hingga sekarang yang penuh retorika demokrasi tanpa kemajuan yang berkelanjutan.
            Melihat kondisi yang bertajuk ironi terbilang mudah ditemui di Indonesia. Bermacam tayangan berita di TV atau media massa lain pun banyak menayangkan kondisi demikian. Dimulai dengan kasus kekerasan, pelecehan seksual, kemiskinan, hingga korupsi. Permasalahan ini pada akhirnya menciptakan rantai ketergantungan yang saling berpengaruh. Sebagai contoh, trend korupsi menimbulkan suatu ketimpangan akses dan kontrol terhadap sumberdaya. Pada akhirnya ketimpangan tersebut menciptakan rantai permasalahan baru berupa kemiskinan. Rakyat yang terbelenggu dalam kemiskinan kian diperparah dengan kasus kriminal yang dijadikan sebagai suatu pelarian untuk mereka bertahan hidup.
            Merenungi fenomena sosial yang terjadi di masyarakat memunculkan suatu pertanyaan tersendiri. Pertanyaannya adalah dimana letak esensi agama rahmatan lil ‘alamin dalam kehidupan pemeluk islam sebagai mayoritas penduduk Indonesia?. berkaitan dengan hal ini bukan agama yang berhak disalahkan, karena islam adalah ajaran agama yang sempurna. Hanya saja seringkali manusia mengabaikan hakekat amanah terbesarnya sebagai mahluk yang Allah SWT ciptakan. Dalam beberapa ayat Al-qur’an dijelaskan pula bahwa manusia memang rawan terjerumus dalam sifat-sifat dzalim. Sifat demikian menjadi cerminan nyata bahwa sebagai mahluk yang diberikan hati nurani, akal dan nafsu, manusia perlu mengendalikan ketiganya agar selaras dengan ajaran islam untuk terciptanya kehidupan yang lebih baik.
            Berbagai upaya dapat dilakukan sebagai wujud implementasi. Misalnya mengetahui kondisi Indonesia yang terbelenggu dalam permasalahan, maka setiap diri berupaya memberikan kontribusi terbaiknya. Sumbangsih pada sesama terlebih pada negara tidak harus dipandang sebagai keharusan melakukan hal-hal besar. Lebih dari itu setiap kontribusi diri perlu diupayakan dan dihargai sekecil apapun bentuknya. Sebagai contoh menanggapi kemiskinan, kita perlu meniatkan diri dan mendorong orang lain untuk berbagi pada sesama, melakukan pemberdayaan dalam program-program swadaya skala kecil atau bahkan menjadi penggerak disektor ekonomi informal berbasis social enterpreuner, penggerak sektor pendidikan melalui kesediaan mengajar bagi mereka yang tak tersentuh sekolah, ataupun sebagai pejuang ekologi yang selama ini kian memburuk, dll.
            Semua bentuk kontribusi harus dipelopori oleh pejuang-pejuang muda sebagai agen perubahan Indonesia yang lebih berkualitas. Hal ini disebabkan generasi muda akan lebih potensial. Potensi ini harus didorong pada bentuk-bentuk positif seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bukan generasi yang justru memperparah keadaan. Misalnya kaum muda yang memiliki kebiasaan hedonis dan tidak peka terhadap kodisi sosial, perlu diarahkan untuk lebih memahami hakekat hidup yang diajarkan agama.
            Dengan demikian, salah satu ayat yang Allah firmankan yang berarti “Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi” (QS.35:39) dapat dipahami sebagai amanah untuk melakukan perubahan. Perubahan pun dapat terwujud melalui kontribusi setiap diri dalam menjaga dan memelihara kehidupan di bumi-Nya terutama bagi generasi muda. Generasi muda yang dimaksudkan harus mampu melakukan progresnya dengan sungguh-sungguh dan tidak mengulang kesalahan generasi sebelumnya. Selain itu mampu memberikan sumbangsih sekecil apapun untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik sebagai generasi pejuang yang peduli bumi dan generasi perubahan yang lebih memanusiakan manusia. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar