Ia
mengantarkanku dengan pandangan dari balik pagar tempat pengantar distasiun
kereta. Pagi itu aku hendak berangkat kembali merajut impian. Ku lambaikan
tangan dan berbalik melangkahkan kaki yang sebenarnya cukup enggan meninggalkan
kota tercinta ini. Hiruk pikuk penumpang kereta ekonomi Tegal Arum menguatkanku
tentang arti pendidikan dalam hidup. Bahwa aku harus memperjuangkan semuanya di
sana, diujung kota hujan yang mengajariku banyak hal, tentang pengalaman, pengetahuan
atau bahkan “cinta”. Ya cinta tentang
instrumen apa adanya negeri ini.
Kususuri gerbong bertuliskan angka
enam, mencari tempat duduk sesuai dengan yang tertera pada tiket yang ku pesan
beberapa hari lalu. Sempat khawatir, ketika dua orang pemuda yang sedikit
“slengean” duduk disamping nomor kursiku. Mereka tertawa tak menentu sampai membuatku
sedikit tidak nyaman. Hingga tak lama kemudian seorang bapak tua mangambil
haknya duduk ditempat yang sama. Kedua pemuda itu pun akhirnya mengakui kesalahan
mereka telah duduk ditempat yang ia sukai dibanding tempat dimana ia
seharusnya. Mungkin begitulah satu potret tentang kedisiplinan kecil yang
seringkali terlupakan di negeri ini. Jangankan kedisiplinan kecil, hal-hal dan
tanggung jawab besar skala nasional pun teramat
sering dislewengkan.
Laju kereta menderu mengantarkan
kendaraan ini menyusuri rel-rel di tempat lain. Menjemput jarak berkilo-kilo
meter diantara waktu yang juga turut bercerita tentang dinamika dibalik jendela
kereta. Ku palingkan pandangan pada
cuplikan cerita “kehijauan” pertanian negeri ini, negeri yang justru tak mampu
memenuhi kedaulatan pangan penduduknya. Cuplikan itu menayangkan gambaran
asrinya pedesaan, petani yang menggarap “kekayaan” agraria, dan sekilas
pemandangan indah lain. Tapi benarkah indah?
karena terkadang kita hanya mampu melihat pedesaan dari balik “jendela”.
Tanpa benar-benar tau bagaimana kantong-kantong kemiskinan dan realitas yang
ada didalamnya.
Baru saja terlarut dengan “film”
bayanganku sendiri, aku dikagetkan suara-suara ramai pedagang menjajakan
dagangan. Anehnya, tepat didepan gerbong tertera tulisan “Dilarang merokok”
tapi disisi lain justru tulisan itu
dikalahkan oleh suara ibu-ibu paruh baya yang lantang berteriak “Rokok pak...
rokok...”. lagi-lagi ketidaksesuaian. Mungkin dunia memang tidak selamanya pada
tataran idealis, seperti ibu itu yang juga tak bisa mutlak disalahkan. Ia hanya
berpikir tentang bagaimana bertahan hidup mengumpulkan rupiah demi rupiah atas
nama perut.
Ujung timur Jawa Barat perlahan
mulai terlewati satu demi satu. Kereta pun kini memasuki kawasan industri yang
menghadirkan episode latar film yang berbeda. Aku mulai lebih tertarik bukan
saja karena tempat-tempat itu sedikit berbeda dengan daerahku, tapi karena
semuanya menginspirasiku untuk menjadikan cerita lewat rangkaian kata yang
ingin ku-eja pada dunia.
Hembusan
angin dari luar menyeruak diantara jiwa yang terpana akan film yang
disutradarai Tuhan. Tempat-tempat ini menjadi saksi akan keangkuhan manusia
menjajah tempat hidup mereka sendiri. Kekumuhan, sampah, ruang-ruang sempit,
ketimpangan golongan borjuis dan kaum melarat menjadi latar belakang yang
menyesakkan. Mungkin jika kota-kota industri ini dapat berbicara tentang apa
yang ia rasakan, aku yakin mereka sudah tak sanggup melayani mahluk bernama
manusia.
Berbagai ironi kutemukan disepanjang
perlintasan rel menuju stasiun Jakarta Kota. Kotak-kotak yang tersusun atas
kardus ataupun kayu yang lebih pantas disebut kandang justru berisi keluarga
manusia. Rumah tanpa jendela itu memelas uluran gedung-gedung pencakar langit.
Seorang gadis muda seusiaku kulihat sedang rehat beralaskan tanah didekat kotak
yang mereka sebut rumah. Ia menatap kearah kereta yang kutumpangi. Ia
mengipaskan sobekan kardus bekas sekedar menghilangkan panas, mulutnya
berkomat-kamit. Mungkin sembari menyampaikan keluhan pada orang-orang didalam
“jendela”.
Rasa
lapar akhirnya mengusikku, tapi rasa enggan membeli makanan yang dijajakan
didalam kereta membuatku menahan sejenak. Hingga seorang ibu menjajakan minuman
hangat dan mie instan rebus yang masih terbungkus rapi. Aku memberhentikan
langkahnya tepat disampingku. Melihat bawaan yang cukup memberatkan jika
berkali-kali menggendong sana sini, kubiarkan kursi kosong disebelahku untuk
beliau beristirahat. Kupilih mie instant dengan rasa baso kemudian mengecek tanggal kadarluarsa yang tertera
dikemasan. Begitu tak ada masalah, kubiarkan ibu itu menuangkan air panas
kedalam mie pesananku.
“Berapa
bu?” tanyaku memastikan
“Enam
ribu neng” ucap beliau singkat sembari menuangkan
“Loh
biasanya kan lima ribu aja bu” balasku sedikit dengan nada heran
“Sekarang
semuanya pada mahal neng, ibu juga butuh buat hidup ibu dan anak-anak. sudah
jauh-jauh jualan dikereta, ya wajarkan neng harga segitu” ia mencoba memelas
sembari mengungkapkan keluhan hati yang mungkin terlalu sering dirasakan
Aku
terdiam mencoba memahami perasaan beliau. Ku serahkan selembar uang lima ribuan
dan selembar uang kertas bertuliskan 1000.
“Makasi
bu..” ucapku pelan sembari menerima mie yang sudah siap kulahap.
Sang
ibu tak beranjak dari kursi disebelahku, ku mulai pembicaraan lebih lanjut
dengan beliau.
“Ibu
sudah lama kerja begini?” tanyaku tanpa basa-basi
“Iya
neng, susah cari kerjaan buat ibu-ibu. Beban hidup pun ga sedikit neng, ya
terpaksalah naik kereta sana-sini nyari duit buat hidup. Neng kuliah?” ia
balik bertanya sambil mengipas-ngipaskan
tangan mengusir gerah.
“Iya
bu, alhamdulillah” aku tersenyum simpul
“Ilmu
itu mahal neng jangan disia-siakan”
Aku
membalasnya dengan anggukan takzim. Lalu kembali terperangkap dalam pikiranku
sendiri. Aku teringat tentang ucapan seorang teman dikampus yang mendaftar
sebagai pengajar bimbel tapi akhirnya ia tidak melanjutkan. Saat itu aku
bertanya mengapa dan ia hanya menjawab dengan ungkapan “ilmu itu mahal”.
katanya dengan bayaran tak seberapa ia harus mempelajari kembali pelajaran yang
dulu diantara rutinitas kuliah dan organisasi rasanya itu terlalu disayangkan.
Aku
kembali mencerna ungkapan itu. Memang benar ilmu seringkali terasa mahal. Tapi
siapa yang memahalkan? Kenapa pula harus dimahalkan? Bukankah Tuhan sendiri
mengamanahkan kita untuk menyampaikan ilmu-Nya walau satu ayat (justru tidak
disertai perihal harga menyampaikan ilmu itu sendiri). Lagi pula jika ilmu itu
mahal, rasanya miris menyaksikan mereka yang tak mampu mendapat kesempatan
menuntut ilmu disekolah-sekolah bahkan hingga perguruan tinggi. Meskipun disisi
lain ilmu memang jauh lebih luas dari pengetahuan dan jangkauan formalitas
pendidikan, tapi setidaknya semoga kelak ilmu dalam dunia pendidikan tak lagi
terasa mahal.
Lagi
pula harusnya dunia dari balik jendela tak harus seringkali miris, karena pada
hakekatnya justru masih selalu ada buku yang mampu membawa kita ke jendela
dunia yang lebih baik. Seperti tujuanku menaiki kereta ini...
Dunia memang keras, tak banyak yang
sesuai dengan harapan-harapan kita. Tentang bagaimana hidup itu selayaknya
terkadang kita juga tak bisa memilih. Lalu muncul pertanyaan yang justru
membingungkan, keadaan itu alami seperti dua sisi mata uang, kaya-miskin,
susah-senang ataukah sebuah konstruksi sosial semata? Lalu siapa subyek yang
mengkontruksikan keadaan demikian? tak pandai rasanya jika hanya menyalahkan Tuhan,
bukankah Tuhan sendiri juga menghargai setiap usaha manusia yang ingin berubah?
Ataukah justru manusianya sendiri yang seringkali menciptakan kedzaliman diatas
bumi? Entahlah... pikiran rumitku memang seringkali menganalisis berbagai hal
yang aku sendiri bingung apa jawabannya. Berbicara tentang realita kemiskinan
sebagai paradoks dinegeri ini terlalu rumit bahkan untuk sekedar berretorika.
Lalu kulayangkan saja beragam doa terbaik yang tulus kupersembahkan untuk
sesama sebagai awal kontribusi yang belum banyak kulakukan.
***
Aku mengomel tak tentu arah pada
cuaca siang ini. “Sial terik sekali” pikirku dalam hati. Aku keluar rumah
sekedar mengharapkan angin segar ibu kota. kuambil kardus bekas sisa memulung
kemaren sore. Ku kibaskan sobekan itu tepat didepan muka yang sudah seperti
kepiting rebus.
“oalaaah... lo jam
segini baru bangun? Ngapain aja semalem? Dapet pelanggan?” seorang tetangga
berteriak sambil menggoda dan tertawa meledek.
Aku
hanya diam enggan menanggapinya. Cibiran seperti itu sudah terlalu membosankan.
Ku palingkan muka ke arah datangnya kereta. Kotak-kotak panjang itu selalu
melintas didepan rumah, menyebabkan kebisingan yang cukup mengganggu.
Seandainya
aku punya pilihan lain, sudah lama kutinggalkan tempat kumuh ini. Seperti
mereka yang berada di balik jendela-jendela nyaman. Jendela kereta itu
misalnya, atau jendela mobil yang seringkali menjadi tempat menengadah receh,
jendela perkantoran yang menjulang, bahkan jendela gedung-gedung para penguasa
negeri ini. Bukankah disana amat sangat nyaman? Tak perlulah sepertiku siang
bolong begini berjemur diri. Dibalik jendela itu cukuplah mereka bersyukur akan
kebaikan Tuhan melahirkannya dengan nasib beruntung.
Kucermati
sekilas penumpang-penumpang kereta tadi, kulihat gadis yang kira-kira tak jauh
dengan usiaku menatap begitu lama kearah sini. Herankah dia tentang pinggiran
lintasan kereta yang justru berisi pentolan-pentolan kotak kardus? ataukah ia
sempat sedikit iba menyaksikan panggung derita dari balik jendelanya? Ya semoga
saja nurani itu masih hidup dalam setiap diri juga dalam diri bapak-bapak
berdasi diatas sana. Hingga bukan lagi dengan menutup jendela mengabaikan
tangan-tangan kami menengadah mengharap rupiah, namun juga mampu melakukan
perubahan bukan saja untuk mereka dan golongannya tapi untuk kami yang juga tak
boleh dilupakan Indonesia.
***
Cukup
mengiris nurani menyaksikan “film” negeri berjudul Indonesia. Bukan seperti
film kebanyakan yang berjenis horor tapi justru lebih layak disebut film porno,
atau film-film percintaan klise yang tak mendidik. Tapi film yang kusaksikan
hari itu sama sekali tanpa rekayasa. Semua adegan dapat kita temukan secara
cuma-cuma. Asalkan nuranimu sedikit berbicara tentang ketulusan dan berusaha
memahami amanah besar mahluk bernama manusia : Menjadi Khalifah di Bumi-Nya.

