Sabtu, 04 Januari 2014

Proses Demokrasi Kampung Halaman


Menelisik kembali sisa-sisa idealis dalam hati Berupaya melarikan diri untuk sekedar tak terlibat, tapi disisi lain ada serangkaian hasrat untuk memaknai seperti apa rasa demokrasi yang seringkali digaungkan dalam teori-teori di kelas ataupun perkuliahan.  Dengan pengetahuan sekedarnya, sang diri mengupayakan bertanya dan mencari serangkaian informasi dari mesin otomatis benama google. Lalu mencoba kritis dan tak hanya termakan janji ataupun topeng palsu dua nomor besar yang akan dipilih banyak orang. Saatnya menentukan pilihan untuk sebuah kepemimpinan di kampung halaman.
Terdengar banyak celotehan diluar ruangan:
Ah males, sapa bae kang dipilih nasib rakyat mah mengkenen bae. Pemerintah langka kang bener (ah malas, siapa saja yang dipilih, nasib rakyat akan begini-begini saja. Pemerintah itu ga ada yang bener)”
Daripada keder yawis bae milih kang ngupai duit bae (daripada bingung, yaudah pilih aja yang ngasih uang)”
Pilih nomer 6 ya, engkoe ana duit 5000. (pilih nomer 6 nanti ada duit 5000)”
Jokot duite terus pilih kang sejen, kan bele weru pas nyoblose milih nde (ambil duitnya terus pilih yang lain, kan gatau pas nyoblos pilih yang mana)”
            Seusai dari bilik pemilihan, dengan lincah jamari menekankan tuts keyboard dalam jaringan internet mencari akun media sosial panwaslu. Mengirimkan pesan singkat tentang fakta money politik yang ada. Dan sudah bisa ditebak bagaimana responnya? NO RESPON. Dari sebuah lembaga yang memiliki peran sebagai ‘pengawas’ sama sekali tak menggubris laporan pelanggaran proses pemilu. Ya itulah kawan sekelumit contoh bias kinerja lembaga negeri ini.
Dan pada akhirnya hanya menarik nafas entah dengan makna apa. Kompleks. Rumit. Tapi setidaknya pilihan kala itu cukup memilih yang tidak menggunakan money politik. nampaknya ada hal yang tak disadari bahwa kepemimpinan hakekatnya tak hanya terdiri pemimpin dan wakil. Tapi terbentuknya suatu pola sistematis antar banyak pihak yang memimpin dan yang dipimpin –sistem birokratis- dan tetap saja siapa yang tahu semua akan berjalan seperti apa dan bagaimana nantinya.
Setidaknya kali ini diri menolak keras politik dinasti. Bahkan proses kampanye menggunakan poster dengan sisipan bupati sebelumnya jelas-jelas menunjukan hubungan untuk menarik massa. Disisi lain keterkaitan juga bisa saja mengindikasi adanya sistem pemerintahan yang mirip tanpa banyak perubahan. Dan kepemimpinan juga dilihat dari banyak hal tidak saja mengatasnamakan pengarusutamaan gender sebagai penguat. Terlebih mendorong pemilih awam dengan uang Rp. 5000. Harga yang amat murah untuk sebuah nurani calon pemimpin tonggak pembangunan. Miris.
Semua ini mengomentari salah satu calon yang benar-benar terlihat langsung menggunakan money politik. Tapi dari pihak calon lawan belum bisa dikomentari. Karena tak menjamin ia tetap bebas dari birokratisme. Mungkin saja hanya tak terlihat massa. Ya mungkin saja. Tapi setidaknya biarlah kesempatan menunjukannya pada sebuah tambuk kepemimpinan yang mengamban kepercayaan, tanggungjawab juga pekerjaan berat melakukan perubahan untuk sebuah kabupaten kecil diujung timur jawa barat: Cirebon. Siapapun pemimpinnya semoga ia mampu menjadi tokoh perubahan untuk Cirebon yang lebih baik dalam banyak hal. Semoga!

Teriring doa untuk Cirebon tercinta. Tempat dimana aku akan kembali pulang dari banyak perjalanan.
(TSY) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar