Senin, 17 Februari 2014

Perilaku Konsumen



TRI SINTYA
Departemen Sains Komunikasi dan Pengembanagan Masyarakat,
 Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.




Kuliah Perilaku Konsumen  Feb – Juni 2014
Dosen:
Prof Dr Ir Ujang Sumarwan, MSc
Dr Ir Lilik Noor Yuliati, MFSA
Ir. MD Djamaluddin, MSc
Ir. Retnaningsih, MS
            Sebagai individu yang hidup dalam lingkup sosial dan ekonomi maka kita tidak akan terlepas dari peran dan status konsumen. Pada hakekatnya seorang konsumen memiliki karakteristik dan perilaku yang khas. Perilaku konsumen diartikan sebagai perilaku yang diperlihatkan konsumen dalam mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi dan menghabiskan produk dan jasa yang mereka harapkan akan memuaskan kebutuhan mereka. Seringkali posisi dan perilaku sebagai konsumen kurang disadari. Untuk itu pendidikan dan pengetahuan mengenai perilaku konsumen penting dipelajari guna kepentingan ekonomi, manajemen ataupun sosial.
            Salah satu ilmuwan yang concern mempelajari perilaku konsumen adalah Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, M.Sc. Beliau mengembangkan penelitian dalam bidang perilaku konsumsi pangan dan perilaku pembeliandan penggunaan berbagai produkdan jasa serta berbagai penelitian lain yang berkaitan dengan perilaku konsumen. Beliau merupakan dosen mata kuliah perilaku konsumen di program sarjana, magister dan doctor di Institut Pertanian Bogor. Pada tahun 2003 beliau menerbitkan buku teks yang berjudul Perilaku Konsumen: Teori dan penerapannya dalam pemasaran. Buku tersebut telah dicetak ulang ketiga sert edisi revisi pada tahun 2011. Berikut kontak yang dapat dihubungi dan gambar buku mengenai perilaku konsumen:









http://ujangsumarwan.blog.mb.ipb.ac.id/



Berbicara mengenai konsumen maka akan erat kaitannya dengan pelanggan, pengambil keputusan, produk barang dan jasa, harga, kualitas serta sikap, dll. Konsumen itu sendiri memiliki perilaku secara umum menginginkan harga rendah dengn kualitas terbaik. Selain itu perilaku konsumen tersebut bergantung pada tingkatan umur, mengikuti trend, selera yang berubah-ubah, mengedepankan keinginan daripada kebutuhan serta melibatkan proses psikologis. Dengan kata lain perilaku konsumen juga diartikan sebagai semua kegiatan dan proses psikologis sebelum atau sesudah membeli produkbaik oleh konsumen individu maupun konsumen organisasi.
            Presepsi riset mengenai konsumen memiliki tiga pandangan atau prespektif yang meliputi prespektif pengambilan keputusan, prespektif experimental, dan prespektif behavioral. Studi perilaku konsumen sendiri meliputi apa yang dibeli konsumen, mengapa ia membeli, kapan membeli, dimaa ia membeli, seberapa sering membeli serta seberapa sering menggunakan. Selai itu terdapat tahapan model keputusan konsumen diantaranya sebagai berikut:
-          Pengenalan kebutuhan
-          Pencarian informasi
-          Evaluasi alternatif
-          Pembelian
-          Kepuasan konsumen
Apabila pengambilan keputusan yang dilakukan konsumen tersebut tergolong baik maka dapat menimbulkan dampak perumusan strategi pemasaran yang ebih baik, perancangan pendidikan konsumen yang lebih baik serta perumusan kebijakan public untuk melindungi konsumen.











Sabtu, 04 Januari 2014

Proses Demokrasi Kampung Halaman


Menelisik kembali sisa-sisa idealis dalam hati Berupaya melarikan diri untuk sekedar tak terlibat, tapi disisi lain ada serangkaian hasrat untuk memaknai seperti apa rasa demokrasi yang seringkali digaungkan dalam teori-teori di kelas ataupun perkuliahan.  Dengan pengetahuan sekedarnya, sang diri mengupayakan bertanya dan mencari serangkaian informasi dari mesin otomatis benama google. Lalu mencoba kritis dan tak hanya termakan janji ataupun topeng palsu dua nomor besar yang akan dipilih banyak orang. Saatnya menentukan pilihan untuk sebuah kepemimpinan di kampung halaman.
Terdengar banyak celotehan diluar ruangan:
Ah males, sapa bae kang dipilih nasib rakyat mah mengkenen bae. Pemerintah langka kang bener (ah malas, siapa saja yang dipilih, nasib rakyat akan begini-begini saja. Pemerintah itu ga ada yang bener)”
Daripada keder yawis bae milih kang ngupai duit bae (daripada bingung, yaudah pilih aja yang ngasih uang)”
Pilih nomer 6 ya, engkoe ana duit 5000. (pilih nomer 6 nanti ada duit 5000)”
Jokot duite terus pilih kang sejen, kan bele weru pas nyoblose milih nde (ambil duitnya terus pilih yang lain, kan gatau pas nyoblos pilih yang mana)”
            Seusai dari bilik pemilihan, dengan lincah jamari menekankan tuts keyboard dalam jaringan internet mencari akun media sosial panwaslu. Mengirimkan pesan singkat tentang fakta money politik yang ada. Dan sudah bisa ditebak bagaimana responnya? NO RESPON. Dari sebuah lembaga yang memiliki peran sebagai ‘pengawas’ sama sekali tak menggubris laporan pelanggaran proses pemilu. Ya itulah kawan sekelumit contoh bias kinerja lembaga negeri ini.
Dan pada akhirnya hanya menarik nafas entah dengan makna apa. Kompleks. Rumit. Tapi setidaknya pilihan kala itu cukup memilih yang tidak menggunakan money politik. nampaknya ada hal yang tak disadari bahwa kepemimpinan hakekatnya tak hanya terdiri pemimpin dan wakil. Tapi terbentuknya suatu pola sistematis antar banyak pihak yang memimpin dan yang dipimpin –sistem birokratis- dan tetap saja siapa yang tahu semua akan berjalan seperti apa dan bagaimana nantinya.
Setidaknya kali ini diri menolak keras politik dinasti. Bahkan proses kampanye menggunakan poster dengan sisipan bupati sebelumnya jelas-jelas menunjukan hubungan untuk menarik massa. Disisi lain keterkaitan juga bisa saja mengindikasi adanya sistem pemerintahan yang mirip tanpa banyak perubahan. Dan kepemimpinan juga dilihat dari banyak hal tidak saja mengatasnamakan pengarusutamaan gender sebagai penguat. Terlebih mendorong pemilih awam dengan uang Rp. 5000. Harga yang amat murah untuk sebuah nurani calon pemimpin tonggak pembangunan. Miris.
Semua ini mengomentari salah satu calon yang benar-benar terlihat langsung menggunakan money politik. Tapi dari pihak calon lawan belum bisa dikomentari. Karena tak menjamin ia tetap bebas dari birokratisme. Mungkin saja hanya tak terlihat massa. Ya mungkin saja. Tapi setidaknya biarlah kesempatan menunjukannya pada sebuah tambuk kepemimpinan yang mengamban kepercayaan, tanggungjawab juga pekerjaan berat melakukan perubahan untuk sebuah kabupaten kecil diujung timur jawa barat: Cirebon. Siapapun pemimpinnya semoga ia mampu menjadi tokoh perubahan untuk Cirebon yang lebih baik dalam banyak hal. Semoga!

Teriring doa untuk Cirebon tercinta. Tempat dimana aku akan kembali pulang dari banyak perjalanan.
(TSY)