Lagi-lagi
kamu menjadi partikel utama yang menginspirasi. Ya, menginspirasi untuk banyak
kata dari akal yang menyimpan beragam hal. Menjadikannya serentetan huruf dalam
kedipan layar monitor. Menulis kembali dengan topik utama berjudul : kamu.
Diantara
sekian banyak perdebatan atas nama ego atau rasionalitas, aku menemukan
sepasang sayap yang membuatku terbang melintas batas imajinasiku sendiri.
Meskipun seketika sayap itu menghilang ketika waktu kembali menjemput realita.
Tapi cukup untuk membuatku tersenyum ikhlas dan tak lagi menuntut banyak hal
gila. Senyuman kecil dilayar handphone yang tak terlalu canggih itu membuat
dahiku berkernyit heran namun disisi lain sang bibir menyunggingkan senyum
ragu-ragu. Ia mempertanyakan kembali apakah pesan ini hanya salah kirim atau
sengaja? Karena belakangan aku gagu dan lupa cara membalas senyummu. Bukan
karena aku tak mau, tapi karena akhir-akhir ini aku tak punya kesempatan untuk
sekedar diberi sebuah emoticon
senyum.
Ya
aku kehilangan senyum kekanakanmu, tingkah konyolmu, juga bentuk candaan tulus
lainnya. aku mulai panik karena tak bisa lagi menemukan itu. Hingga aku lupa
bagaimana cara membalas hal yang sama jika itu terulang kembali? Dan benar
saja, senja kali ini aku hanya bisa tersenyum tipis dengan belenggu ragu yang
terlalu mengharu biru. Aku seperti
seorang bocah yang berhenti menangis setelah menemukan kembali mainan
kesayangannya yang sempat hilang. Aku dengan semacam rasa yang tak pernah bisa
sempurna ku eja, mulai kembali mengejar dan bertanya alasan dari senyuman itu.
Lalu seperti biasa, manusia memang seringkali dibilang mahluk serakah “diberi
hati meminta jantung”. Tepat seperti itulah responku, hingga akhirnya tak ada
lagi respon selanjutnya dari nomer yang sudah biasa kuhafal itu.
Cukup.
Cegah hati kecilku menghibur. Sudah lebih dari cukup bukan? Setidaknya akhir
tahun ini kamu masih mendapatkan senyuman. Positifnya, senyuman itu anggaplah
sebagai kado hari ibu untuk seorang ibu dari anak-anaknya kelak seperti
permintaan rahasia yang biasa terungkap dalam doanya. Tapi tunggu, rasanya itu
terlalu tinggi. Karena bagiku entah dengan makna apapun melihat senyumnya
adalah salah satu momen terbaik untuk aku bisa mengikhlaskannya dan melihat dia
bahagia serta baik-baik saja. Sesimpel itu cinta sederhana yang tak pernah kita
tahu ujungnya. J

Tri izin repost ya, nice writting :D
BalasHapus