Sabtu, 30 November 2013

ICRD 2013 : Beberapa ungkapan


Genap sebulan terakhir menjelang tahun baru, bukan menantikan gempita perayaan pada angka bernomor  1 dibulan pertama itu. Tapi menantikan banyak hal tentang harapan dan rencana hidup. Meskipun pada akhirnya Tuhan tetaplah menjadi muara penentuan. Satu bulan lagi, akan aku sambut tahun kelulusanku (semoga), dan dari sanalah awal banyak hal yang belum pernah aku jalani. Menantikannya menjadi begitu menakjubkan, akan kemana dan seperti apa. Teka-teki Tuhan sangatlah menarik, semenarik untuk menstimulus diri melakukan usaha dan perubahannya.
Awal tahun ini aku tutup dengan pengelaman menakjubkan bersama orang-orang luar biasa. Satu impian dikertas mimpiku berhasil tercentang tanda berhasil terwujud. Perjuangan menuju perwujudan impian adalah saat dimana diri takjub pada kekuatan Tuhan mengatur semuanya. Ya kali ini berhasil menjadi partsipan dalam konferensi internasional dengan menampilkan karya tulisan kita di International Conference Regional Development (ICRD) 2013. Siapa sangka selain Bogor dan Jakarta, Semarang menjadi salah satu kota penaklukan seorang diri yang dulu bukanlah apa-apa. Bahkan untuk menjelajah jauhpun tak sempat terkira.
ICRD 2013 menjadi langkah pembelajaran tersendiri tentang bagaimana setiap diri dan kelompok selalu menjadi bagian dari pembangunan. Bukan saja sebagai objek pihak berwenang melaksanakan kebijakannya, tapi menjadi subjek perubahan. Menganalisis beragam fenomena dan membahasnya utuk menjadi pertimbangan evalusi kehidupan yang lebih baik. Semoga bukan saja menghasilkan output yang sekedar kertas tapi sebagai lebih dari itu sebagai  implementasi nyata ilmu pengetahuan.
Semangat untuk peraihan mimpi-mimpi selanjutnya. Menunjukan bahwa perjuangan mewujudkan impian adalah hakekat kualitas hidup tersendiri. Betapa Tuhan tak pernah luput melihat hambanya jauh lebih dalam dari setiap mahluk yang mampu melihat.

 




Sabtu, 02 November 2013

Malam Minggu


         Masih lekat 3 tahun lalu saat melangkahkan kaki dengan penuh tekad agar mengenal dunia perkuliahan. Lalu akhirnya tahap demi tahap Allah menyampaikan pada takdir pilihanNya. pada salah satu tahap itu, aku sempat singgah di universitas ternama dinegeri ini. Pertama kali rasanya seperti orang udik yang baru merasakan naik kereta, melihat gedung-gedung pencakar langit ibu kota setelah kenangan masa kecil silam, juga melihat megahnya bangunan yang disebut kampus. Saat itu aku melihat betapa mahasiswa memang berbeda dari segi apapun. Ada kharisma tersendiri dari title itu. Posisi yang sungguh berbeda dari keseharian aku yang masih heboh dengan seragam putih abu-abu. Keseharian yang diisi dengan beragam kegiatan, tapi kegiatan yang cenderung bukan apa-apa, kegiatan yang kurang produktif, pembelajaran yang seenak sendiri karena kepalang santai juga prespektif tentang malam minggu yang entah berawal dari konstruksi sosial siapa bahwa malam minggu dinilai ‘berbeda’. Sebagian remaja mungkin mendefinisikan berbeda adalah karena sejenak bisa rehat sekolah, liburan, atau juga mengisi malam minggu dengan agenda pacaran dan sejenisnya. Dan aku termasuk yang menilai bahwa malam minggu memang berbeda, karena tak ada istilah belajar. Kalau bukan diisi tenggelam dalam novel-novel pinjaman, menonton acara TV hingga larut malam, juga berkesempatan smsan lebih intens dengan gebetan.
Agaknya pengalaman kala singgah dikampus itu mematahkan cara pandangku tentang malam minggu. Aku terheran dan geleng-gelang kepala saat bermalam di asrama mahasiswa. Karena ternyata banyak diantara mereka yang mengisi malam minggu dengan asyik dikamar asrama yang kecil itu. Mereka antusias menenggelamkan diri dengan laptop dan setumpuk buku-buku yang entah berapa ratus halaman. Istimewa. Melakukan hal yang tidak biasa. Hingga akhirnya malam ini aku berkesempatan mengenang pengalaman itu, lalu menertawakan diri sendiri karena entah malam minggu keberapa, aku masih melarutkan diri dengan beragam tugas, belajar, atau kepentingan organisasi. Kini aku yang berbeda posisi dari 3 tahun silam juga melihat diriku sebagai mahasiswa yang aku lihat saat itu. Dan aku lebih mengerti bahwa setiap orang memiliki cara pandang, kepentingan dan alasannya masing-masing. Atau bahkan terkadang hidup bukan melulu tentang pilhan, tapi justru hidup itu sendiri yang tak menyisakan pilihan.
Itulah hidup. Perputarannya begitu sempurna tanpa cela menunjukan kekuasaan Tuhan. Juga menunjukan bahwa manusia bermetamorfosis dari waktu ke waktu hingga menua. Semoga setiap perubahan apapun itu senantiasa mengarah pada kebaikan dan keridhoanNya. Bukan saja tentang prespektif malam minggu tapi juga tentang banyak hal disekeliling kita. 

Jumat, 01 November 2013

Akselerasi



            Mempercepat masa perkuliahan bagi sebagian orang itu menjadi cukup dilematis. Tapi bagi sebagian yang lain pasti tak menolak, asalkan berkapasitas. Beragam alasan terkadang memang rasional, misalnya karena masih ingin mengeksplorasi diri dengan beragam kegiatan, atau sekedar menikmati masa-masa itu tanpa harus buru-buru mengakhirinya. Karena terkadang juga dunia kerja jauh lebih ‘dramatis’ dari dunia kampus. Awalnya aku memiliki alasan demikian. Sama seperti ketika dulu terlalu takut mengakhiri masa SMA dan dunia perkuliahan masih menjadi impian yang abu-abu. Atau bahasa ‘sok’nya aku terlalu mencintai proses pembelajaran :) 
Lalu perlahan, aku menyadari bahwa proses pembelajaran itu bukanlah proses pendidikan seperti sekolah atau kuliah. Pembelajaran adalah proses seumur hidup. Ia tak pernah selesai. Karena belajar adalah proses berfikir dan memaknai hidup lewat apapun itu kemudian menjadikannya lebih baik dari waktu ke waktu. Dan kata akselerasi menjadi tuntutan ditengah keluarga yang semakin perlu dibantu. Bukan saja melulu tentang keegoisan impian sendiri. Maka mempercepat masa kuliah berarti segera memutus aliran dana yang memberatkan, karena akselerasi berarti menantang diri dibawah tekanan, karena akselerasi juga berarti mempercepat masuk dunia kerja lalu membantu mereka! sesederhana itu kondisi eksternal mendoktrin diri sebagai motivasi. Bukan terlalu ngoyo atau sok. Tapi karena setiap orang memiliki alasan yang berbeda. Dan alasan lain adalah karena beban negara. Rasanya selalu ironis bahkan meneteskan air mata setiap kali melihat tayangan dokumenter dilayar kaca. Menyadari betapa terlalu banyak masyarakat marjinal bertaruh hidup sedemikian sulit dinegeri ini. Sedangkan aku? Berfikir berkali-kali seberapa pantas hidup dari tanggungan negara, mengorbankan hidup diatas jeritan mereka. Tragis. Maka mempercepat semuanya semoga menjadi jalan terbaik untuk hidup yan lebih baik didepan sana.
Tapi akselerasi akhir-akhir ini menjadi  sebuah impian yang cukup menakutkan. Antara sanggup atau tidak. Dan pada akhirnya sedikit berempati pada diri sendiri, ketika justru takut yang lebih dominan lalu apa lagi yang bisa dilakukan? Impian akan kalah tanpa tekad dan semangat.  Menurut seorang teman “Namanya juga hidup, kalo bukan kita yang semangat… mau dibawa kemana hidup kita. Semangat itu jalan satu-satunya mewujudkan tujuan (ESB).” ya semangat bertekad dengan usaha dan doa, hanya itu yang bisa dilakukan untuk sekarang. Semoga impian 2014 wisuda bukan sekedar angan. Semoga!