Senin, 28 Oktober 2013

Ketidakbiasaan


Senja kali ini rasanya sang hujan tak berniat absen untuk tidak menyapa. Senja kali ini juga rasanya hati tak mau berkompromi untuk sedikit saja melupakan apa yang harusnya dilupakan. Tunggu, tapi benarkah harus? 
Entahlah… ia bertahta sederhana dengan semua kenangan dan kebaikan. Justru diri sendirilah yang membuatnya terjelma dalam pemikiran dan sikap angkuh tak biasa. karena adakalanya yang tak biasa dan istimewa akhirnya berimbas pada hal-hal yang tak diinginkan. Ada hal yang tak seharusnya ada. Ada hal yang harusnya biasa tapi terlalu dibuat rumit. Sebuah ‘Ketidakbiasaan’. Dan sampai saat ini satu kata itulah yang belum mampu aku ganti dengan makna lain. 



"Bagian"


   Membiarkan bebas dan tak terikat atau bahkan membiarkan harapan menjadi serangkaian abstraksi yang lebih abstrak lagi hingga akhirnya tak ditemukan. Mengalir membiarkan takdir Tuhan berjalan dengan sempurna. Tapi mengenal keluarga lain dengan perlahan dan memasukinya seperti putri yang baru dikeluarga itu adalah kado luar biasa. Untuk seorang ayah yang aku bebas berdiskusi tentang “hidup” dan bahkan menanggung keperluanku disatu bagian episode Tuhan yang lewat tangan-tangan mereka Dia menunjukkan bahwa selalu ada malaikat-malaikat dibumi-Nya. Juga untuk seorang ibu yang dengan kekhawatirannya mengingatkanku akan banyak hal, atau kakek dan nenek yang mengajakku mengenal lebih jauh apa yang seharusnya aku pahami sesuai title almamaterku. Juga mengenal putri kecil yang menjadi adik tercantikku. 

Banyak hal… ya banyak hal yang kamu bawa. Tapi ketika aku dan kamu akan menjelma seabstrak apapun, mereka adalah persembahan ikatan yang selalu nyata. Selalu…


Jumat, 18 Oktober 2013

1


    Disatu ruang waktu yang cukup singkat aku menemukanmu utuh tak bergeming. Tak ada kejanggalan disana, seolah waktu dengan sempurna menjawab bahwa jaraklah yang memanipulasi. Aku menyusun sisa-sisa perdebatan dalam pertanyaan yang tak mudah kujelaskan. Bahkan kata-kata seolah mengawang mempertanyakan sebuah rasa yang dulu begitu nyata namun seringkali timbul tenggelam. Bahkan disatu waktu kemarin dapat kita katakan karam. 

       Aku menemukanmu masih tersenyum dengan ketulusan yang sama, aku masih menemukan serangkaian kelembutan disana, aku masih menemukan banyak hal yang menjadi skema penilaianku bahwa itu kamu. Ya kamu : seseorang yang masih akan tetap sama berharganya seperti tahun-tahun silam hingga kelak kehidupanku berakhir. 


-belajar menyimpan sebuah rasa untukmu tanpa syarat-

Rabu, 02 Oktober 2013

Sebutir benih

Bercerita tentang pengalaman yang mengandung banyak hal. rasanya masih lekat ketika kaki mungil ini dulu menjejakan tapaknya pada area berlumpur : sawah. semua menyimpan keasyikan tersendiri. sebuah ruang waktu yang utuh. lalu pagi itu entah mungkin lebih karena terpaksa tuntutan tugas aku (tepatnya kami) menceburkan diri menanam padi belajar lebih dalam tentang satu ilmu bernama 'tanaman pangan'. kini sedikit berbeda disatu waktu yang tentu tak sama juga diruang yang juga berbeda. ternyata dunia memang tak pernah lepas dari perubahan. termasuk perubahan mendasar tentang lingkungan. tak ada lagi cipratan air lumpur yang bersih karena pagi itu ternyata sawah bercampur sampah. ironis.
hanya mencoba mengamati semuanya lebih dekat, tentang hubungan horzontal, lingkungan serta pemaknaan diri pada Tuhan. aku belajar, tentang hakekat bahwa manusia kian mengubah lingkungan entah menjadi apa. serta tentang kebesaran Tuhan dalam satu butir benih hingga bibit dan kelak menjadi tanaman bermanfaat luar biasa... selalu berusaha belajar memaknai