Melihat dunia
dari sisi lainnya. Memang terlalu sering ironi itu berkisah lewat layar kaca
atau sesekali melihat selintas pada realita. kali ini terdiam ditengah
keramaian yang menggambarkan kemewahan dan kemirisan. Tak ada semangat
tergabung dalam kesenangan seperti beberapa pengunjung lainnya, yang ada hanya
berfikir meraba rasa pada nurani. Disetiap sudut selalu terlihat duka yang
terselip lewat pengorbanan dan perjuangan hidup. aku tak menikmatinya sama
sekali sebagai rekreasi menghilangkan penatnya perkuliahan, justru lebih
memaknainya sebagai kesempatan belajar tentang ruang hidup yang tak pernah
kudekati. Kata demi kata muncul menggambarkan rasa dan tanya lewat diskusi
kecil bersama orang yang menemaniku.
“Inilah hidup” ungkapnya
“Inilah hidup” ungkapnya
“Lalu dimana
letak rasa kemanusiaan pada diri seorang manusia?” tanyaku hening
“Terkadang
memang harus tega, karena beginilah adanya”
“Tidak bukan
itu, bukan keharusan tega terhadap semua ini. Tak adakah cara lain?”
“Ada,
selesaikan kuliah, lakukan yang terbaik yang bisa kamu lakukan untuk sesama. Bukankah
sekarang pun kamu masih bergantung dari mereka yang secara tak langsung
memberikan sumbangsih pada uang negara yang kau terima?”
__Lalu diam
menyeruak dalam renungan diri...__
Tidak ada komentar:
Posting Komentar