Menelisik
kembali sisa-sisa idealis dalam hati Berupaya melarikan diri untuk sekedar tak
terlibat, tapi disisi lain ada serangkaian hasrat untuk memaknai seperti apa
rasa demokrasi yang seringkali digaungkan dalam teori-teori di kelas ataupun
perkuliahan. Dengan pengetahuan
sekedarnya, sang diri mengupayakan bertanya dan mencari serangkaian informasi
dari mesin otomatis benama google. Lalu mencoba kritis dan tak hanya termakan
janji ataupun topeng palsu dua nomor besar yang akan dipilih banyak orang.
Saatnya menentukan pilihan untuk sebuah kepemimpinan di kampung halaman.
Terdengar banyak
celotehan diluar ruangan:
“Ah males, sapa bae kang dipilih nasib rakyat mah mengkenen bae.
Pemerintah langka kang bener (ah malas, siapa saja yang dipilih, nasib
rakyat akan begini-begini saja. Pemerintah itu ga ada yang bener)”
“Daripada keder yawis bae milih kang ngupai duit bae (daripada
bingung, yaudah pilih aja yang ngasih uang)”
“Pilih nomer 6 ya, engkoe ana duit 5000. (pilih nomer 6 nanti ada
duit 5000)”
“Jokot duite terus pilih kang sejen, kan bele weru pas nyoblose milih
nde (ambil duitnya terus pilih yang lain, kan gatau pas nyoblos pilih yang
mana)”
Seusai dari bilik pemilihan, dengan lincah jamari
menekankan tuts keyboard dalam jaringan internet mencari akun media sosial
panwaslu. Mengirimkan pesan singkat tentang fakta money politik yang ada. Dan
sudah bisa ditebak bagaimana responnya? NO RESPON. Dari sebuah lembaga yang
memiliki peran sebagai ‘pengawas’ sama sekali tak menggubris laporan
pelanggaran proses pemilu. Ya itulah kawan sekelumit contoh bias kinerja
lembaga negeri ini.
Dan
pada akhirnya hanya menarik nafas entah dengan makna apa. Kompleks. Rumit. Tapi
setidaknya pilihan kala itu cukup memilih yang tidak menggunakan money politik.
nampaknya ada hal yang tak disadari bahwa kepemimpinan hakekatnya tak hanya
terdiri pemimpin dan wakil. Tapi terbentuknya suatu pola sistematis antar
banyak pihak yang memimpin dan yang dipimpin –sistem birokratis- dan tetap saja
siapa yang tahu semua akan berjalan seperti apa dan bagaimana nantinya.
Setidaknya
kali ini diri menolak keras politik dinasti. Bahkan proses kampanye menggunakan
poster dengan sisipan bupati sebelumnya jelas-jelas menunjukan hubungan untuk
menarik massa. Disisi lain keterkaitan juga bisa saja mengindikasi adanya
sistem pemerintahan yang mirip tanpa banyak perubahan. Dan kepemimpinan juga
dilihat dari banyak hal tidak saja mengatasnamakan pengarusutamaan gender
sebagai penguat. Terlebih mendorong pemilih awam dengan uang Rp. 5000. Harga
yang amat murah untuk sebuah nurani calon pemimpin tonggak pembangunan. Miris.
Semua
ini mengomentari salah satu calon yang benar-benar terlihat langsung
menggunakan money politik. Tapi dari pihak calon lawan belum bisa dikomentari.
Karena tak menjamin ia tetap bebas dari birokratisme. Mungkin saja hanya tak
terlihat massa. Ya mungkin saja. Tapi setidaknya biarlah kesempatan
menunjukannya pada sebuah tambuk kepemimpinan yang mengamban kepercayaan,
tanggungjawab juga pekerjaan berat melakukan perubahan untuk sebuah kabupaten
kecil diujung timur jawa barat: Cirebon. Siapapun pemimpinnya semoga ia mampu
menjadi tokoh perubahan untuk Cirebon yang lebih baik dalam banyak hal. Semoga!
Teriring doa untuk
Cirebon tercinta. Tempat dimana aku akan kembali pulang dari banyak perjalanan.
(TSY)
(TSY)