diawali dengan sebaris quotes meaningfull
"bagaimana bisa dikatakan seseorang mempunyai negara bilamana ia tidak memiliki hak terhadap sejengkal tanahpun disana"
(hendry george)
#ketika kajian agraria beralih pada "rasa". bukan rasa sosial seperti seharusnya hanya saja rasa yang terlalu bingung menggambarkan diri. mungkin lebih tertarik pada fenomena nyata dan studi kasus, bukan muter2 bahas potongan isi buku. Tapi benarkah? atau hati yang terlalu berpenyakit untuk bersabar menerima?
---Dilematis--- selintas pikiran dari sesosok diri bernama manusia, rasanya rumit.
serumit pena merangkai kata yang tak bermuara...
katanya tiga kata mampu meredam semua : Ikhlas, Sabar, Semangat
seperti awalan kata pada satu tempat impian diujung dunia : Institut Social Studies -- Belanda ^_^
tapi rasanya..terkadang memang kata tak semudah raga melaksanakannya.
lalu bagaimana lagi?
bukankah setidaknya tak harus dimulai dengan kata "tak mudah". cukup ucapkan dan ulangi, hingga diri mempu mengadopsi dibawah pikiran alam bawah sadarnya..
--> "coba dengarkan kekisruhan percakapan hati, otak dan alam bawah sadar. menggeliat enggan bergerak untuk memikirkan apa yang sedang didengar telinga melalui sarafnya, mata dengan retinanya dan hati dnegan pergolakannya. baik2lah hati dalam menerima apapun yang disebut ilmu. baik2lah dan positiflah dalam menerima. pikir itu mencoba menasehati hati yang tidak begitu baik mulai pagi tadi. bukan lagi balas menasehati, hati itu bilang-jaga pikiranmu dan gerakkan terus untuk perjuangan panjang yang akan kamu lalui. tentang masa depan.. tentang impian dan tentang keindahan mimpi yang telah sama2 kita rancang. bangkilah... dengarkan dan mulai berfikir.
bukan masalah agraria, reforma, atau apalah itu post kolonial yang terangkai jelas namun terpatah-patah pada ingatan dan gerakan pikiranmu.
Tapi bergeraklah untuk sesuatu yang bisa membangun diri kita, keluarga kita, masyarakat kita, dan negara kita." (Apriyani, 2013)
Tapi disatu waktu, ruang ini terlalu "dingin" bahkan "sepi". melepaskan sesosok bayangan yang aku tak tau harus menguburnya disudut hati sebelah mana.
disatu waktu itu, rasanya belum mau memberikan ketegasan pada hati dan indera lain untuk melangkah memikirkan pertarungan impian didepan sana...
Tunggu, sejenak saja...
mendengarkan permintaan hati yang masih teraniaya sunyi
ia hanya ingin terdiam meresapi waktu yang berlahan pergi. percayalah diripun tak akan selamanya menyerah. ia akan kembali berlari seperti biasa. mungkin hanya butuh berdamai dengan sang waktu..
membiarkan sekeping kenangan memaknai kedalaman hidup yang diberikan Tuhan...
lalu diakhiri dengan kalimat slide terakhir : " Selamat Merenung "...
dalam kuliah kajian agraria
Selasa, 30 April 2013
@RKV. 201 Fateta IPB -- 11:45
(TSY/NAY)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar