Minggu, 22 Desember 2013

Smile ^_^


Lagi-lagi kamu menjadi partikel utama yang menginspirasi. Ya, menginspirasi untuk banyak kata dari akal yang menyimpan beragam hal. Menjadikannya serentetan huruf dalam kedipan layar monitor. Menulis kembali dengan topik utama berjudul : kamu.
Diantara sekian banyak perdebatan atas nama ego atau rasionalitas, aku menemukan sepasang sayap yang membuatku terbang melintas batas imajinasiku sendiri. Meskipun seketika sayap itu menghilang ketika waktu kembali menjemput realita. Tapi cukup untuk membuatku tersenyum ikhlas dan tak lagi menuntut banyak hal gila. Senyuman kecil dilayar handphone yang tak terlalu canggih itu membuat dahiku berkernyit heran namun disisi lain sang bibir menyunggingkan senyum ragu-ragu. Ia mempertanyakan kembali apakah pesan ini hanya salah kirim atau sengaja? Karena belakangan aku gagu dan lupa cara membalas senyummu. Bukan karena aku tak mau, tapi karena akhir-akhir ini aku tak punya kesempatan untuk sekedar diberi sebuah emoticon senyum.
Ya aku kehilangan senyum kekanakanmu, tingkah konyolmu, juga bentuk candaan tulus lainnya. aku mulai panik karena tak bisa lagi menemukan itu. Hingga aku lupa bagaimana cara membalas hal yang sama jika itu terulang kembali? Dan benar saja, senja kali ini aku hanya bisa tersenyum tipis dengan belenggu ragu yang terlalu mengharu biru.  Aku seperti seorang bocah yang berhenti menangis setelah menemukan kembali mainan kesayangannya yang sempat hilang. Aku dengan semacam rasa yang tak pernah bisa sempurna ku eja, mulai kembali mengejar dan bertanya alasan dari senyuman itu. Lalu seperti biasa, manusia memang seringkali dibilang mahluk serakah “diberi hati meminta jantung”. Tepat seperti itulah responku, hingga akhirnya tak ada lagi respon selanjutnya dari nomer yang sudah biasa kuhafal itu.
Cukup. Cegah hati kecilku menghibur. Sudah lebih dari cukup bukan? Setidaknya akhir tahun ini kamu masih mendapatkan senyuman. Positifnya, senyuman itu anggaplah sebagai kado hari ibu untuk seorang ibu dari anak-anaknya kelak seperti permintaan rahasia yang biasa terungkap dalam doanya. Tapi tunggu, rasanya itu terlalu tinggi. Karena bagiku entah dengan makna apapun melihat senyumnya adalah salah satu momen terbaik untuk aku bisa mengikhlaskannya dan melihat dia bahagia serta baik-baik saja. Sesimpel itu cinta sederhana yang tak pernah kita tahu ujungnya. J



Hari ini


Minggu, 22 Desember 2013

Memenjarakanmu dalam sebagian diri ternyata bukan menjadi hal terbaik. Hingga pada akhirnya ia justru melukai, memaksakan sekian teori untuk tetap berjalan sebagaimana harusnya waktu-waktu dulu. Hati lupa mengatur bagaimana ia harusnya mengendalikan  rasa hingga titik balik keseimbangannya, juga akal yang kehilangan rasionalitasnya. Benar-benar masih ‘bocah’.
Berbilang menit, jam, hingga hari yang berlalu nyatanya aku masih gagal. Aku menyadari bentuk kegagalan yang begitu memuakan. Tak punya pilihan antara melepaskan dan menuntut bagaimana seharusnya. Menuntut bahwa arti kata teman tak seharusnya berkutat dengan pola hubungan demikian. Lalu kita hanya saling mencari alibi atas perlakuan masing-masing. Tak mau saling memahami. Mungkin begitulah prosesnya, atau kasarnya anggaplah ini hukuman dari semesta karena kita menciptakan kondisi tak seharusnya, melintas jauh dari batas-batas pembenaran. Ah membingungkan. Bahkan aku kini hanya mampu beretorika pada kata yang entah dimaknai dengan rasa apa. Terlalu abstrak. Aku hanya ingin menghindar, mencari kehidupan baru dan aku tak tahu seperti apa bentuk pengembalian semangat. Berlari pun aku masih terengah dan gelap. Karena pada akhirnya aku tak bisa pergi kemana-mana masih banyak hal yang harus diselesaikan.  Termasuk kamu.
Lalu tentang hari ini, aku masih menginginkan terikat pada satu hubungan. Seperti yang orang-orang sebut sebagai hari ibu, walaupun satu predikat itu justru tak pernah memiliki ujung penghargaannya atau satu puncak penghargaan. Karena semua tentang ibu, tak sekedar berhenti pada satu hari, ia adalah bentuk kasih sayang tulus dan cinta selamanya. Meskipun begitu, hari ini aku menengok kembali sisa-sisa keberadaanku dihati seorang ibu diujung sana. “Ibu… Selamat hari ibu… makasih buat semuanya”, dan ternyata dibalik kalimat itu ada yang masih tertinggal : “ Terima kasih karena telah melahirkan dia kedunia”. Kupilih kalimat tak terungkap itu untuk menutup akhir tahun yang kita isi belakangan dengan tingakah menyebalkan. Semoga kalimat terbaik itu manjadi doa penghujung senja untuk kehidupan lebih berharga didepan sana. Selamat bertemu dipersinggahan selanjutnya… dan terima kasih karena telah terlahir ke dunia.



Senin, 09 Desember 2013

Pertanyaan Untuk Hujan Selanjutnya

untuk rangkaian waktu, ketika kusaksikan kamu mulai berlalu.
menyisakan kenangan, juga menyisakan tentang hujan..

terpejam...
membiarkan tempiasnya menenggelamkan diri 
pada hakekat takdir yang Tuhan berikan
maka mengurungmu disatu sudut hati
menyimpanmu dirangkaian syaraf memory
menangkap bayang dalam retina
juga mengiangkan suara dalam telinga...
lalu kembali terbuka,
menatap pasti
fokus pada banyak hal
meski nyatanya hujan tetap menghadirkan sebuah ruang tersendiri tentang kamu.

untuk saat ini setidaknya masih tetap begitu
tapi untuk hujan-hujan selanjutnya... aku masih belum tau.

Bogor, hujan sore ini 9 Desember 2013